STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) masih memiliki pipeline penawaran umum perdana saham (IPO) yang berisi empat calon emiten hingga 10 Juli 2026. Namun, realisasi pencatatan saham baru sepanjang tahun ini baru mencapai tujuh perusahaan, sehingga target penambahan 50 emiten baru pada 2026 menjadi perhatian pelaku pasar.
Data BEI menunjukkan, hingga 10 Juli 2026 terdapat tujuh perusahaan yang telah melantai di bursa dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp2,16 triliun.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin mengatakan BEI terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga pipeline IPO dan meningkatkan kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal.
“Dari sisi regulasi, BEI berupaya agar peraturan pencatatan dapat mengakomodasi kebutuhan para pemangku kepentingan dengan memperhatikan aspek perlindungan investor,” ujar Saidu dikutip Minggu (12/7/2026).
Menurut Saidu, BEI juga aktif melakukan edukasi dan pendampingan kepada perusahaan melalui seminar go public, workshop, coaching clinic, masterclass, hingga pertemuan satu per satu dengan calon emiten. Selain itu, informasi terkait pendanaan melalui pasar modal juga tersedia melalui laman Go Public BEI.
Berdasarkan data pipeline, empat calon emiten yang masih dalam antrean pencatatan terdiri dari dua perusahaan sektor healthcare, satu perusahaan sektor basic materials, dan satu perusahaan sektor consumer non-cyclicals. Seluruh perusahaan tersebut masuk kategori aset skala besar dengan nilai aset di atas Rp250 miliar. Informasi ini juga menunjukkan belum adanya perusahaan dari sektor energi, keuangan, infrastruktur, properti, teknologi, maupun transportasi dan logistik dalam pipeline saat ini.
Sepanjang tahun 2026, perusahaan pertama yang mencatatkan saham di BEI adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April 2026. Perseroan menghimpun dana IPO sebesar Rp302,40 miliar.
Selanjutnya, pada pekan ini BEI menyambut enam emiten baru sekaligus, yakni PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS).
JELI yang dikenal melalui merek INACO menghimpun dana sebesar Rp239,40 miliar, sedangkan JECX memperoleh dana Rp609,97 miliar. BACH meraih dana IPO Rp271,83 miliar dan EMMI sebesar Rp245,74 miliar. Sementara PRDL berhasil menghimpun Rp62,74 miliar dan RANS memperoleh dana Rp429,25 miliar.
Direktur PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), David Agus, mengakui pasar IPO tahun ini sedang mengalami perlambatan.
“Oh iya dong. Tahun ini kan baru emiten ke-7,” kata David usai pencatatan perdana saham RANS di Gedung BEI.
Menurut dia, kondisi pasar saham yang masih bergejolak membuat sebagian calon emiten memilih menunda aksi korporasinya.
“Penyebabnya ya karena memang kondisi pasarnya yang memang kurang kondusif untuk IPO. Dan kedua, saya lihat seleksinya dari Bursa Efek Indonesia dan OJK juga semakin ketat,” ujar David. “Jadi mereka make sure yang masuk ke bursa adalah perusahaan-perusahaan yang memang benar layak masuk ke bursa.”
David menambahkan, aktivitas IPO umumnya memiliki pola musiman. Pipeline biasanya ramai pada pertengahan tahun karena banyak perusahaan menggunakan laporan keuangan Desember yang masa berlakunya enam bulan.
“Nanti mungkin rame lagi akhir tahun karena sebagian pakai buku Juni. Jadi memang ada siklusnya,” ujar David.
BEI sendiri menegaskan akan terus memperkuat kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan pengembangan kapasitas perusahaan tercatat agar pasar modal tetap menjadi sumber pendanaan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

