spot_img

Dirut PRDL Respons Isu Kerja Sama dengan Grup Prajogo Pangestu, Ini Penjelasannya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) membuka peluang menjalin kerja sama dengan berbagai pihak setelah mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7/2026). Manajemen Perseroan juga merespon pertanyaan awak media terkait peluang kolaborasi dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu. Apalagi, belakangan nama kedua pihak kerap dikaitkan menjelang IPO PRDL.

Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), Cristina Sandjaja mengatakan, keterkaitan yang ramai diperbincangkan lebih mengacu pada investasi TPIA di PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), induk usaha sekaligus salah satu pemegang saham PRDL.

Saat ditanya mengenai peluang kerja sama dengan grup Barito yang dikaitkan dengan kepemilikan saham TPIA di PRDA, Cristina menegaskan belum ada pembahasan mengenai hal tersebut.

“Oh, itu TPIA punya saham di PRDA ya, di grup induk ya. Dari situ kayaknya nggak tahu ya. Mereka kan sudah klarifikasi tuh bahwa itu adalah diversifikasi investasi saja di PRDA,” ujar Cristina usai pencatatan saham perdana Perseroan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (9/7/2026).

Di sisi lain, Cristina menegaskan fokus utama Perseroan setelah IPO adalah mempercepat ekspansi bisnis melalui peluncuran produk baru.

“Ya, kami akan meluncurkan beberapa produk baru yang saat ini memang belum ada di pasar kesehatan di Indonesia. Harapan kami dengan produk-produk baru tersebut kami akan dapat semakin melayani sistem kesehatan di Indonesia,” kata Cristina.

PRDL mencatatkan saham perdana di BEI dengan harga penawaran Rp120 per saham. Perseroan menawarkan sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum, sehingga menghimpun dana sekitar Rp62,75 miliar.

Minat investor terhadap IPO PRDL juga sangat tinggi. Selama masa penawaran umum, Perseroan menerima 1.273.678 antrean pemesanan melalui sistem e-IPO dengan tingkat kelebihan permintaan (oversubscription) mencapai 709,93 kali. Angka tersebut menjadi tingkat permintaan tertinggi dalam sejarah IPO di pasar modal Indonesia.

Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi usaha. Sekitar 62% dialokasikan untuk melunasi sebagian pinjaman bank, sekitar 28,92% untuk belanja modal berupa pembelian mesin, peralatan kalibrasi, kendaraan, sistem perangkat lunak, relayout area produksi, serta penambahan AHU Lab Biomolekuler. Sisanya sekitar 8,51% digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, pengembangan produk, serta kegiatan pemasaran.

Kaitan PRDL dengan TPIA

Keterkaitan PRDL dengan TPIA bukan merupakan hubungan kepemilikan langsung maupun kerja sama operasional.

Hubungan tersebut terjadi melalui investasi minoritas TPIA di PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), yang merupakan salah satu pemegang saham PRDL.

TPIA tercatat memiliki sekitar 13,89 juta saham atau setara 1,48% di PRDA. Sementara sebelum IPO, struktur kepemilikan PRDL terdiri atas PT Prodia Utama sebesar 51%, PRDA sebesar 39%, dan Diasys Diagnostic Systems GmbH sebesar 10%.

Menjelang IPO PRDL, pasar sempat mengaitkan aksi korporasi tersebut dengan grup usaha Prajogo Pangestu karena TPIA berada dalam kelompok usaha tersebut. Namun, manajemen TPIA sebelumnya telah menegaskan kepemilikan saham di PRDA hanya merupakan investasi portofolio biasa dan tidak berkaitan dengan ekspansi bisnis, akuisisi, kemitraan strategis, maupun perubahan fokus usaha Grup Chandra Asri.

Dengan demikian, TPIA bukan pemegang saham langsung PRDL maupun pengendali Perseroan. Hubungan kedua emiten hanya melalui kepemilikan minoritas TPIA di PRDA, yang menjadi salah satu pemegang saham PRDL.

Saham PRDL Langsung ARA

Pada hari pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (9/7/2026), saham PRDL langsung menyentuh batas atas auto rejection (ARA).

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 12.25 WIB, saham PRDL naik 42 poin atau 35% ke level Rp162 dari harga IPO Rp120 per saham. Volume perdagangan mencapai sekitar 573,7 ribu saham dengan nilai transaksi sekitar Rp92,94 juta dan frekuensi 5.121 kali. Kapitalisasi pasar Perseroan tercatat sekitar Rp282,35 miliar.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Keterbukaan Informasi Dinilai Memadai, BEI Buka Kembali Perdagangan Saham PEGE

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi...

BEI Cabut Suspensi, Saham Panca Global Kapital (PEGE) Kembali Diperdagangkan Hari Ini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka penghentian sementara...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru