STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) membidik pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7/2026). Target tersebut akan didorong melalui peluncuran sejumlah produk baru mulai semester II-2026, perluasan jaringan distribusi, serta penguatan layanan kepada pelanggan.
Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), Cristina Sandjaja mengatakan, antusiasme investor terhadap penawaran umum perdana saham (IPO) menjadi sinyal kuat atas kepercayaan pasar terhadap fundamental Perseroan.
IPO PRDL mencatatkan 1.273.678 antrean pemesanan melalui sistem e-IPO dan mengalami kelebihan permintaan (oversubscription) hingga 709,93 kali. Capaian tersebut menjadi rekor tingkat permintaan ritel tertinggi dalam sejarah IPO di pasar modal Indonesia.
“709 kali. Jadi, order untuk Proline ini menjadi order yang tertinggi. Kami mencetak rekor sebagai order ritel yang paling banyak sepanjang sejarah IPO di Indonesia. Kami sangat-sangat mengapresiasi animo dari para investor Indonesia,” ujar Cristina usai pencatatan saham perdana Perseroan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (9/7/2026).
Menurut Cristina, tingginya minat investor didorong oleh valuasi saham PRDL yang dinilai menarik serta fundamental Perseroan yang mendapat apresiasi dari pasar.
Setelah IPO, PRDL akan mempercepat ekspansi dengan menghadirkan beberapa produk baru yang belum tersedia di pasar kesehatan Indonesia.
“Kami akan meluncurkan beberapa produk baru yang saat ini memang belum ada di pasar kesehatan di Indonesia. Harapan kami dengan produk-produk baru tersebut kami akan dapat semakin melayani sistem kesehatan di Indonesia,” kata Cristina.
Peluncuran produk baru akan dimulai pada semester II-2026. Melalui strategi tersebut, Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit pada tahun ini.
“Tahun lalu itu kan kami tumbuh di atas 20%. Harapan kami, kami bisa mencapai angka yang paling tidak sama. Tapi tentu saja ini dipengaruhi kondisi makro dan kondisi perekonomian kita,” ujarnya.
Selain menghadirkan produk baru, PRDL akan mempertahankan kualitas layanan kepada pelanggan serta memperluas jaringan distribusi. Saat ini Perseroan memiliki sekitar 70 distributor yang tersebar di 30 provinsi dan berencana memperluas jangkauan ke sekitar 200 kabupaten/kota yang masih belum terlayani.
Cristina menjelaskan, lebih dari 60% pelanggan PRDL berasal dari sektor pemerintah. Perseroan telah melayani lebih dari 7.000 puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium di berbagai daerah. Hingga akhir tahun, cakupan layanan ke puskesmas ditargetkan meningkat menjadi sekitar 8.000 unit.
Untuk mendukung ekspansi, dana hasil IPO akan dimanfaatkan sesuai rencana penggunaan dana. Sebagian besar digunakan untuk melunasi pinjaman produktif yang sebelumnya dipakai membangun fasilitas produksi baru, sedangkan sisanya dialokasikan untuk belanja modal dan modal kerja.
“Untuk kegiatan operasional sehari-hari kami akan menggunakan cash flow operation,” ujar Cristina.
Di sisi industri, Cristina menilai prospek sektor kesehatan nasional masih positif seiring meningkatnya anggaran kesehatan pemerintah. Perseroan juga memiliki keunggulan karena produk reagen kimianya memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di atas 70%, sehingga ketergantungan terhadap mata uang asing relatif rendah.
Meski membuka peluang ekspansi ke pasar internasional, PRDL memilih memprioritaskan pasar domestik dalam beberapa tahun ke depan karena potensi pertumbuhannya masih sangat besar. Menurut Cristina, kualitas produk Perseroan telah mampu bersaing dengan produk luar negeri, namun ekspansi global membutuhkan kesiapan regulasi di masing-masing negara.
Sebagai informasi, PRDL menetapkan harga IPO sebesar Rp120 per saham dan menawarkan 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum. Dari aksi korporasi tersebut, Perseroan menghimpun dana sekitar Rp62,75 miliar. Sekitar 62% dana digunakan untuk pelunasan sebagian pinjaman bank, 28,92% untuk belanja modal, dan 8,51% sebagai modal kerja.

