STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) Wall Street bergerak melemah pada Minggu malam (13/7/2026) waktu Amerika Serikat atau Senin pagi (13/7/2026) WIB. Pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan udara.
Mengutip CNBC, kontrak berjangka indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 135 poin atau 0,3%. Sementara futures indeks S&P 500 melemah 0,3% dan futures Nasdaq-100 terkoreksi lebih dalam sebesar 0,5%.
Tekanan di pasar muncul setelah Iran dan Amerika Serikat kembali terlibat aksi saling serang pada akhir pekan. Teheran dilaporkan menargetkan fasilitas milik Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk dan menyatakan Selat Hormuz ditutup.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah klaim tersebut. Trump mengatakan jalur pelayaran strategis tersebut masih terbuka untuk lalu lintas komersial.
Sebelumnya, Trump pada Sabtu (12/7/2026) memerintahkan serangan udara terhadap Iran setelah adanya serangan Iran terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Meningkatnya ketegangan geopolitik langsung mendorong harga minyak dunia. Kontrak berjangka minyak Brent naik 3,7% menjadi USD78,86 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3% ke level USD74,05 per barel.
Pendiri Fed Watch Advisors, Ben Emons, menilai isu penutupan Selat Hormuz akan terus membayangi pasar.
“Penutupan selat akan membebani pasar dengan sentimen risk-off. Namun, kecuali ada prospek serius penutupan dalam beberapa bulan ke depan yang dapat menyebabkan kekurangan energi global yang besar, fokus pasar pekan depan juga akan tertuju pada inflasi, Warsh, dan laporan keuangan perbankan,” ujar Emons.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga bersiap menghadapi musim laporan keuangan emiten kuartal II-2026 yang dimulai pekan ini.
Sejumlah bank besar Amerika Serikat dijadwalkan merilis kinerja keuangan, antara lain JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo.
Selain sektor perbankan, investor juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah emiten besar lainnya seperti Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth.
Ekspektasi pasar terhadap musim laporan keuangan kali ini cukup tinggi. Berdasarkan data FactSet, analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan anggota indeks S&P 500 tumbuh lebih dari 23% secara tahunan pada kuartal II-2026.
Sektor teknologi juga menjadi perhatian utama investor, terutama terkait keberlanjutan tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Chief Investment Officer Raymond James, Larry Adam, menilai belanja modal terkait AI masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
“Kami memperkirakan rencana belanja modal akan kembali ditegaskan dan terus meningkat hingga 2028. Sebab, terdapat bukti nyata bahwa dunia usaha memperoleh manfaat dari adopsi AI,” kata Adam.
Menurut dia, penyebutan AI di seluruh 11 sektor industri meningkat 98% dibandingkan tahun sebelumnya dan telah mencapai rekor tertinggi.
Selain laporan keuangan, investor juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat. Laporan Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) periode Juni dijadwalkan dirilis pada Selasa (15/7/2026) pagi waktu setempat.
Data inflasi tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dan pergerakan pasar keuangan global dalam jangka pendek.

