STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak sekitar 3,5% pada akhir perdagangan Minggu (12/7/2026) waktu setempat. Kenaikan ini dipicu oleh konflik perebutan kendali Selat Hormuz antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Selat ini merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman mendatang naik 3,5%. Harga minyak acuan global ini diperdagangkan pada level 78,67 USD per barel.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,4%. Minyak WTI berada pada posisi 73,87 USD per barel.
Ketegangan meningkat setelah militer AS meluncurkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada hari Minggu. Sebelumnya, Komando Sentral AS (Centcom) telah menyerang 140 target pada hari Sabtu. Serangan ini merupakan balasan atas tindakan Korps Garda Revolusi Islam Iran terhadap kapal kontainer yang melintasi Hormuz.
Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman. Informasi ini dilaporkan oleh kantor berita negara Iran, Tasnim. Media negara Iran menyebut Garda Revolusi telah menutup Selat Hormuz sampai waktu yang belum ditentukan.
Namun, pihak militer AS membantah klaim penutupan tersebut. Centcom menyatakan selat tetap terbuka untuk semua kapal yang melakukan transit secara sah.
Centcom memberikan penjelasan melalui unggahan di media sosial. “Pasukan AS diposisikan dan bersiap untuk memastikan kebebasan navigasi tetap tersedia meskipun ada agresi, pelecehan, ancaman, dan deklarasi sewenang-wenang dari Iran,” tulis Centcom. Mereka menegaskan Iran tidak mengendalikan selat dan lalu lintas kapal tetap mengalir.
Presiden Donald Trump juga menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara televisi yang tayang pada hari Minggu. Firma intelijen maritim Windward mencatat ada sembilan kapal yang melewati selat itu pada hari Sabtu.
Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center) di Bahrain ikut memberikan keterangan. Lembaga ini merupakan koalisi angkatan laut pimpinan AS yang menjaga keamanan kapal sipil di Timur Tengah. Mereka menyebut rute selatan melalui perairan Oman masih terbuka untuk lalu lintas masuk dan keluar.
Meski demikian, situasi keamanan di Hormuz dinilai masih sangat parah. Pihak pusat informasi tersebut meminta para pelaut untuk sangat waspada. “Pelaut harus menerapkan kewaspadaan ekstrem,” tulis lembaga tersebut dalam pemberitahuannya.
Pertempuran terbaru ini meletus akibat perbedaan tafsir antara AS dan Iran. Keduanya berbeda pendapat mengenai cara pembukaan kembali Selat Hormuz berdasarkan kesepakatan damai sementara pada 17 Juni lalu.
Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat ini. Lalu lintas kapal sempat anjlok saat Iran mulai menyerang kapal pada awal Maret. Namun, jumlah kapal yang melintas sempat meningkat setelah Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara sebelum ketegangan kembali memuncak minggu ini

