spot_img

Wall Street Variatif, Saham Micron Jadi Sorotan Usai Kapitalisasi Pasar Tembus USD 1 Triliun

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Selasa sore (26/5/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (27/5/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sukses mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Investor merespons positif lonjakan saham sektor teknologi serta prospek perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melemah 118,02 poin atau 0,23% ke level 50.461,68. Indeks S&P 500 (SPX) justru menguat 0,61% dan berakhir di posisi rekor 7.519,12. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, melonjak 1,19% menjadi 26.656,18.

Kenaikan Nasdaq dipicu oleh performa gemilang saham Micron Technology. Harga saham Micron terbang 19% hingga nilai kapitalisasi pasarnya menembus angka psikologis USD 1 triliun. UBS memprediksi saham produsen cip ini masih memiliki ruang kenaikan lebih dari 100% ke depan.

Sektor cip memori lainnya ikut mengekor kenaikan tersebut. Saham Seagate Technology naik 4% dan Western Digital menguat 8%. ETF Roundhill Memory (DRAM) bahkan melesat lebih dari 14% ke rekor tertinggi baru.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik. Presiden Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang berjalan dengan baik. Meski demikian, Trump memberi peringatan AS tetap bisa melakukan serangan jika negosiasi buntu.

Di sisi lain, militer AS melaporkan telah melakukan serangan “pertahanan diri” di wilayah selatan Iran pada Selasa pagi. Sasaran serangan mencakup lokasi peluncuran rudal dan kapal Iran yang mencoba memasang ranjau. Juru Bicara Komando Pusat AS, Tim Hawkins, memberikan penjelasannya.

“Amerika Serikat tetap menahan diri selama gencatan senjata yang berlangsung antara kedua negara,” ujar Hawkins.

Pasar minyak bereaksi terhadap ketegangan tersebut. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli turun 2,81% menjadi USD 93,89 per barel. Sebaliknya, minyak jenis Brent naik 3,58% ke level USD 99,58 per barel.

Ron Albahary, Chief Investment Officer LNW, menilai ada optimisme yang sangat tinggi di kalangan pelaku pasar. Ia melihat investor sangat berharap konflik segera berakhir.

“Anda memiliki investor yang menurut saya optimis secara patologis di sini sehingga perang akan segera berakhir dan segala sesuatunya akan kembali seperti sebelum perang,” kata Albahary.

Albahary menambahkan saat ini terjadi tarik-menarik kepentingan di pasar. Investor sangat percaya pada besarnya belanja modal yang mendorong bursa. Namun, ia mengingatkan fondasi ekonomi AS masih cukup rapuh.

“Investor percaya pada tsunami belanja modal yang telah mendorong pasar lebih tinggi, sementara basis ekonomi AS masih relatif rapuh, dengan inflasi kemungkinan menjadi sistemik,” tambah Albahary.

Kondisi inflasi yang tetap tinggi membuat harapan akan pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed) menjadi berkurang. Berdasarkan data FedWatch CME Group, pelaku pasar kini melihat adanya peluang 11% untuk kenaikan suku bunga pada Juli. Angka ini melonjak tajam dari posisi bulan lalu yang hanya sebesar 0,9%.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Futures Wall Street Bergerak Datar Usai Cetak Rekor Tertinggi

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika...

Ketegangan Timur Tengah dan Ukraina Memanas, Bursa Saham Eropa Tergelincir ke Zona Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

AS Serang Balik Iran di Selat Hormuz, Kesepakatan Damai Terancam Batal?

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasukan Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru