back to top

Bursa Eropa Kompak Menguat, Pasar Ikuti Perkembangan Politik AS; Bos Pandora Mundur

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan Selasa (30/9/2025) waktu setempat. Investor masih mencermati kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan kebuntuan politik di Washington.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang mencakup saham-saham utama di kawasan Eropa, naik 0,48% ke level 558,18. FTSE 100 di London menguat 0,54% menjadi 9.350,43. DAX Jerman bertambah 0,57% ke 23.880,72. CAC 40 Prancis naik tipis 0,19% ke 7.895,94. Sementara itu, FTSE MIB Italia ditutup menguat 0,40% ke 42.725,32, dan IBEX 35 Spanyol melonjak 1,04% ke 15.475,00.

Di sisi korporasi, saham Pandora anjlok 2,6%. Penurunan terjadi setelah perusahaan perhiasan asal Denmark itu mengumumkan rencana pensiun Chief Executive Officer Alexander Lacik pada Maret mendatang. Posisinya akan digantikan Chief Marketing Officer Berta de Pablos-Barbier, mantan eksekutif LVMH.

Saham Lufthansa juga melemah tajam 7,1%. Maskapai asal Jerman itu sebelumnya mengumumkan rencana pemangkasan 4.000 karyawan hingga 2030. Investor sempat merespons positif rencana ekspansi armada dan target margin baru pada Capital Markets Day, namun keesokan harinya harga saham berbalik turun.

Dalam catatan untuk klien, analis UBS menilai saham Lufthansa tetap menarik jika target keuangan bisa tercapai. “Target margin 8-10% lebih menantang dibandingkan target jangka menengah sebelumnya 8% [tapi] kami pikir target margin di atas 8% bisa dicapai,” tulis UBS.

Dari Amerika Serikat, sentimen pasar global ikut dipengaruhi rencana tarif baru. Trump menyebut akan mengenakan tarif 10% untuk impor kayu, serta bea masuk awal 25% untuk kabinet dapur, meja rias kamar mandi, hingga furnitur berlapis. Tarif tersebut akan meningkat lagi pada tahun depan. Trump mengatakan impor produk itu “mengancam ekonomi AS dan melemahkan keamanan nasional.”

Selain itu, potensi penutupan pemerintahan federal juga menjadi perhatian pasar dunia. Setelah pertemuan di Gedung Putih, Wakil Presiden JD Vance menegaskan, “saya pikir kita menuju shutdown karena Demokrat tidak mau melakukan hal yang benar.”

Shutdown biasanya tidak berdampak besar pada pasar, tetapi kali ini investor lebih waspada. Pelemahan pasar tenaga kerja, risiko stagflasi, dan valuasi saham yang tinggi membuat ketidakpastian semakin besar. Shutdown juga bisa mendorong lembaga pemeringkat meninjau ulang peringkat kredit AS yang sudah diturunkan Moody’s pada Mei lalu.

Dari Inggris, konferensi tahunan Partai Buruh masih berlangsung di Liverpool. Perdana Menteri Keir Starmer memperingatkan dalam pidatonya bahwa negara kini berada “di persimpangan jalan” antara pembaruan atau kemunduran. Menteri Keuangan Rachel Reeves sehari sebelumnya menyampaikan pidato tanpa banyak memberi bocoran soal rencana anggaran musim gugur, yang diperkirakan akan mencakup kenaikan pajak.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Ditutup Bervariasi, Saham Nvidia Anjlok Lebih Dari 5% 

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Mayoritas Bursa Eropa Menguat, Saham Puma dan Engie Melonjak

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada...

Efek ‘Takaichi Trade’ Bursa Saham Asia Kompak Menguat

STOCKWATCH.ID (TOKYO) - Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru