STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia merosot sekitar 1% pada akhir perdagangan Selasa (24/2/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (25/2/2026) WIB.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun 0,72 USD atau 1,01% menjadi 70,77 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 0,68 USD atau 1,03%. Minyak WTI berakhir pada posisi 65,63 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Penurunan ini menjauhkan harga dari level tertinggi hampir tujuh bulan. Sebelumnya, Brent berpeluang mencatat penutupan tertinggi sejak 31 Juli. WTI juga sempat mengarah ke penutupan tertinggi sejak 1 Agustus.
Pelemahan harga terjadi menyusul melunaknya sikap Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan kesiapan negaranya berunding.
“Teheran siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat,” ujarnya pada hari Selasa.
Kedua negara akan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir. Pertemuan ini dijadwalkan pada hari Kamis di Jenewa. Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyampaikan informasi ini pada hari Minggu.
Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC. Amerika Serikat menuntut mereka menghentikan program nuklirnya.
Namun, Iran menolak keras tuntutan tersebut. Mereka juga menepis tegas tuduhan sedang mengembangkan senjata atom.
Bank asal Swiss, UBS, turut memantau situasi ini. Mereka merilis proyeksi terbarunya pada hari Selasa.
“Kami memperkirakan penurunan moderat pada harga minyak dalam beberapa minggu mendatang asalkan tidak ada eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan,” tulis laporan UBS.
Direktur Departemen Sumber Daya Mineral Dakota Utara memberikan pandangannya pada hari Senin. Dakota Utara adalah negara bagian penghasil minyak terbesar ketiga di AS.
“Harga minyak mentah AS mencakup premi risiko geopolitik sebesar 3 USD hingga 4 USD per barel karena ketegangan antara AS dan Iran,” paparnya.
Kekhawatiran konflik militer dengan Iran memang masih membayangi. Departemen Luar Negeri AS sampai menarik personel pemerintah non-esensial dan keluarga mereka dari kedutaan di Beirut.
Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS membeberkan penarikan ini pada hari Senin. Menurut sejumlah sumber, Iran hampir mencapai kesepakatan dengan China. Mereka berencana membeli rudal jelajah anti-kapal dari negeri tirai bambu tersebut.
Di sisi lain, tarif impor global 10% AS mulai berlaku pada hari Selasa. Pejabat Gedung Putih menyebut pemerintahan Trump masih berusaha menaikkannya menjadi 15%. Kebijakan ini memicu kebingungan usai kekalahan Trump di Mahkamah Agung pekan lalu.
Dari sisi pasokan, aktivitas ekspor minyak Venezuela mulai bergerak. Para pembeli menyewa kapal pengangkut minyak mentah sangat besar (VLCC) pertama kalinya.
Langkah ini sejalan dengan dimulainya kesepakatan pasokan Caracas-Washington. Menurut sumber dan data, pengiriman akan dipercepat mulai bulan Maret sekaligus mendongkrak pasokan ke India.
Pasukan militer AS baru saja menyita sebuah kapal tanker minyak di Samudra Hindia. Kapal tersebut terkena sanksi dan dilacak dari perairan Karibia.
Pentagon mengumumkan hal ini pada hari Selasa. Pencegatan ini merupakan yang ketiga kalinya di kawasan tersebut. Laporan pengiriman dari perusahaan negara Venezuela, PDVSA, menunjukkan kapal itu membawa minyak mentah tujuan China.
Komisi Eropa juga sedang menyiapkan proposal hukum. Mereka akan melarang impor minyak Rusia secara permanen pada 15 April. Keputusan ini diambil tiga hari setelah pemilihan parlemen Hungaria.
Penurunan harga minyak juga dipicu oleh sikap menanti para pelaku pasar. Mereka menunggu arahan dari laporan penyimpanan mingguan. American Petroleum Institute (API) akan merilis datanya pada Selasa malam.
Badan Informasi Energi (EIA) AS menyusul merilis data pada hari Rabu. Para analis memperkirakan adanya penambahan cadangan minyak mentah.
Angkanya diproyeksi bertambah 1,3 juta barel untuk pekan yang berakhir 20 Februari. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun lalu yang mencatat penurunan sebesar 2,3 juta barel pada periode sama. Rata-rata penambahan selama lima tahun terakhir (2021-2025) menyentuh 3,1 juta barel.
