back to top

Awas Krisis Energi Ala 1970-an! Penutupan Selat Hormuz Bisa Kerek Harga Minyak Tembus USD 100

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Pasar minyak dunia bersiap menghadapi kejutan pasokan yang luar biasa. Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada akhir pekan memicu kepanikan baru. Pelaku pasar takut aliran minyak melalui Selat Hormuz benar-benar terputus.

Mengutip CNBC, para analis memprediksi reaksi harga minyak akan langsung melonjak tajam saat perdagangan dibuka kembali. Pertanyaan terbesarnya saat ini adalah seberapa lama ketegangan ini akan menghentikan ekspor minyak dari kawasan Teluk.

CEO Vanda Insights, Vandana Hari, menyoroti eskalasi peperangan ini. Situasi saat ini sangat tidak bisa diprediksi oleh pasar.

“Pada titik ini, tampaknya kita sedang melihat konflik militer skala penuh antara AS dan Iran, yang belum pernah terjadi sebelumnya dan lintasannya tidak mungkin untuk dinilai,” ujar Hari kepada CNBC.

Hari memperingatkan dampak sistemik jika konflik terus berlarut. Hal ini bisa dicegah asalkan AS mampu melucuti angkatan laut militer Iran lebih dulu dan mengamankan lalu lintas kapal tanker.

“Jika ini berlanjut selama berhari-hari dengan Iran dan proksinya membalas secara maksimal, kita sedang melihat skenario terburuk untuk minyak, termasuk gangguan besar aliran minyak melalui Timur Tengah,” tegasnya.

Perhatian utama dunia kini tertuju pada Selat Hormuz. Posisinya terjepit di antara Oman dan Iran. Jalur ini merupakan rute transit paling kritis bagi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.

Data Kpler mencatat sekitar 13 juta barel minyak per hari melewati selat ini pada tahun 2025. Angka tersebut setara dengan 31% dari total aliran minyak lintas laut dunia. Selat Hormuz menghubungkan produsen raksasa seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab menuju pasar global.

Laporan Reuters pada hari Sabtu mengungkap situasi memanas di perairan tersebut. Seorang pejabat misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides, mendengar pesan radio VHF dari Garda Revolusi Iran. Peringatan tersebut ditujukan kepada kapal-kapal komersial.

“Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz,” bunyi peringatan tersebut.

Meski begitu, Teheran belum mengonfirmasi arahan resmi penutupan jalur air tersebut. Selama bertahun-tahun, Iran memang kerap mengancam akan memblokir selat sempit ini sebagai bentuk balasan atas serangan musuh.

Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menyebut situasi ini sangat genting. Ia sebelumnya telah memperingatkan kliennya soal probabilitas konflik yang mencapai angka 75%.

McNally menilai insiden ini sebagai “perkembangan yang sangat serius” bagi pasar minyak dan gas dunia. Semua sangat bergantung pada produksi dan aliran dari Selat Hormuz. Ia menegaskan tingkat lonjakan harga akan sangat ditentukan oleh durasi dan ruang lingkup gangguan.

Mimpi buruk bagi pasar global bukan sekadar hilangnya ekspor Iran hingga 2 juta barel per hari. Ancaman terbesarnya adalah gangguan pelayaran meluas di selat tersebut. Hal ini disampaikan oleh Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic.

“Indikasi awal menunjukkan serangan berskala lebih luas ke Iran, dengan serangan balasan yang dapat meningkat hingga menarik banyak negara Teluk,” kata Kavonic.

Ia memprediksi pasar akan langsung memasukkan berbagai spektrum risiko ke dalam harga jual. Eskalasi peperangan ini bisa menyeret kawasan Teluk ke dalam kelumpuhan infrastruktur.

“Jika rezim Iran merasa mereka menghadapi ancaman eksistensial, upaya untuk memblokir Selat Hormuz tidak dapat dikesampingkan,” ucap Kavonic.

Namun, Kavonic yakin AS beserta sekutunya akan segera mengerahkan pengawal militer. Langkah ini wajib dilakukan demi melindungi jalur pelayaran komersial. Jika Iran berhasil menutup selat, implikasinya bagi pasar energi global akan sangat fatal.

“Ini bisa menghadirkan skenario tiga kali lipat keparahannya dari embargo minyak Arab dan revolusi Iran pada tahun 1970-an, dan mendorong harga minyak ke tiga digit, sementara harga LNG menguji kembali rekor tertinggi tahun 2022,” papar Kavonic.

Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow. Serangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan secara signifikan di kawasan tersebut. Padahal, fasilitas minyak Iran belum secara langsung ditargetkan sejauh ini.

Lipow turut membeberkan skenario terburuk dari konflik mematikan ini. Ia menakar probabilitas skenario mengerikan ini berada di angka 33% jika Iran merasa semakin terpojok.

“Serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi yang diikuti oleh penutupan penuh Selat Hormuz,” jelas Lipow.

Sebagai catatan, harga minyak mentah Brent ditutup pada level USD 72,48 per barel pada perdagangan Jumat. Harga ini mencatatkan kenaikan sekitar 19% sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada USD 62,02 per barel, atau melonjak sekitar 16% sejauh tahun ini.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Inflasi Memanas dan Ancaman AI Bikin Cemas, Indeks Dow Jones Anjlok 500 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Laba Cetak Rekor, Saham Swiss Re Melonjak Saat Bursa Eropa Ditutup Bervariasi

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada...

Bursa Saham Asia Bergerak Variatif,di Akhir Pekan, Saham Teknologi Jadi Sorotan

STOCKWATCH.ID (TOKYO) - Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru