STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Ekonomi Amerika Serikat (AS) mulai merasakan dampak nyata dari perang Iran. Guncangan ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari yang terlihat jelas hingga yang tersembunyi di balik permukaan. Lonjakan biaya energi menjadi faktor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi saat ini.
Mengutip tulisan Jeff Cox, Editor Ekonomi CNBC.com, kekhawatiran akan resesi terus meningkat sejak pertempuran dimulai enam minggu lalu. Sebagian besar ekonom memprediksi perang ini akan memberikan dampak moderat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Perang diperkirakan memangkas beberapa persepuluh poin persentase dari total pertumbuhan.
Masa depan ekonomi sangat bergantung pada durasi konflik tersebut. Dampak inflasi kemungkinan akan memudar jika gencatan senjata saat ini tetap bertahan. Namun, situasi akan menjadi sangat suram jika pertempuran kembali pecah. Pertumbuhan ekonomi yang rapuh dalam dua kuartal terakhir kini berada dalam ancaman besar.
Mike Skordeles, Kepala Ekonomi AS di Truist Advisory Services, memberikan analisanya. Ia menilai ketidakpastian menjadi masalah yang lebih besar bagi stabilitas pasar.
“Ini akan menggerus sebagian pertumbuhan, namun kita akan berhasil melaluinya,” ujar Skordeles.
Ketidakpastian telah menyelimuti ekonomi AS selama setahun terakhir. Kondisi ini bermula sejak Presiden Donald Trump mengumumkan tarif “hari pembebasan” pada April 2025. Kebijakan luar negeri yang semakin agresif turut memperkeruh suasana ekonomi dalam negeri.
Situasi perang memicu pertanyaan besar bagi para pelaku pasar. Fokus utama tertuju pada respons bank sentral AS atau The Fed. Mike Skordeles memperkirakan The Fed akan menunda pemotongan suku bunga hingga akhir tahun. Hal ini berisiko meningkatkan biaya pinjaman bagi para konsumen.
Suku bunga tinggi terjadi pada saat yang kurang tepat bagi masyarakat. Harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat nasional sudah mencapai rata-rata 4,10 USD per galon. Selain itu, lonjakan suku bunga KPR membuat penjualan rumah pada Maret merosot ke level terendah dalam sembilan bulan.
Meski demikian, belanja masyarakat melalui kartu debit dan kredit justru melonjak 4,3% pada Maret. Ini merupakan kenaikan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Data Bank of America menunjukkan ketahanan dompet konsumen masih cukup kuat menghadapi kenaikan harga.
Lonjakan belanja tersebut didorong oleh kenaikan pengeluaran di SPBU sebesar 16,5%. Sektor lain di luar BBM juga masih tumbuh sehat sebesar 3,6%. Faktor pendukung lainnya adalah pengembalian pajak (tax refund) yang mencapai rata-rata 3.521 USD. Angka ini naik 11,1% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Ironisnya, survei Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen berada pada rekor terendah. Angka ini bahkan lebih buruk daripada masa pandemi Covid-19 atau krisis keuangan global. Namun, David Kelly dari JPMorgan Asset Management menilai penurunan sentimen tidak selalu menjadi prediksi akurat bagi perilaku belanja nyata.
Harga minyak tetap menjadi indikator kunci bagi kesehatan ekonomi. Joseph Brusuelas, Kepala Ekonom di RSM, menetapkan batas kritis harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada level 125 USD per barel.
“Pada titik itulah penurunan permintaan mulai bertambah cepat dan meluas,” tegas Brusuelas.
Saat ini minyak diperdagangkan di kisaran 91 USD per barel. Harga tersebut masih di bawah puncak harga 115 USD yang sempat terjadi pada awal April. Brusuelas berpendapat kerusakan struktural jangka panjang pada kapasitas produksi minyak di Timur Tengah belum terlihat sepenuhnya.
Sejumlah lembaga keuangan mulai menurunkan ekspektasi mereka. Goldman Sachs memangkas proyeksi pertumbuhan PDB tahun ini menjadi 2%. Angka ini turun 0,5% dari perkiraan sebelumnya. Atlanta Fed juga memproyeksikan pertumbuhan kuartal pertama hanya mencapai 1,3%.
Pelemahan aktivitas ekonomi ini kemungkinan berdampak pada pasar tenaga kerja. Goldman Sachs memprediksi tingkat pengangguran akan naik menjadi 4,6% pada akhir tahun. Meski begitu, angka tersebut hanya naik tipis sebesar 0,3% dari posisi Maret.
Ekonom Goldman Sachs, Jessica Rindels dan David Mericle, menyebut The Fed saat ini masih dalam posisi memantau. Mereka memperkirakan ada peluang dua kali pemotongan suku bunga pada September dan Desember mendatang. Langkah ini diambil seiring meningkatnya angka pengangguran dan perkembangan inflasi.
Inflasi menjadi hambatan utama yang harus dihadapi The Fed. Data inflasi Maret menunjukkan hasil yang beragam bagi pasar. Indeks harga konsumen (IHK) naik 0,9% secara bulanan, sehingga inflasi tahunan berada di level 3,3%.
Namun, inflasi inti yang tidak menghitung biaya pangan dan energi hanya naik 0,2%. Secara tahunan, inflasi inti berada di posisi 2,6%. Meskipun masih di atas target The Fed sebesar 2%, angka ini dinilai bergerak ke arah yang benar.
Perang Iran juga memukul rantai pasok global secara signifikan. Indeks Tekanan Rantai Pasok Global dari New York Fed mencapai level tertinggi sejak Januari 2023. Kondisi ini diprediksi akan mempersulit aliran bahan baku dalam beberapa bulan mendatang.
Dampak ekonomi akibat lonjakan harga energi justru lebih terasa di luar AS. Mike Skordeles mencatat Asia menjadi pihak yang paling menderita akibat konflik ini. Wilayah tersebut sangat bergantung pada sumber bahan bakar dari Timur Tengah untuk menggerakkan industrinya.
“Asia adalah pihak yang terpukul, karena mereka adalah pengguna besar,” tambah Skordeles.
Secara keseluruhan, AS dinilai masih mampu bertahan menghadapi tekanan harga energi. Skordeles menegaskan biaya energi saat ini relatif lebih murah dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Ekonomi AS mungkin akan sedikit melambat, namun para ahli optimis kondisi ini bukan merupakan akhir dari pertumbuhan.
