back to top

BI, Utang Luar Negeri (ULN) Januari 2026 Tercatat US$434,7 Miliar, Tumbuh 1,7%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) –  Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 tetap terjaga. Posisi ULN Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$434,7 miliar atau secara tahunan tumbuh 1,7% (yoy). Ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 1,8% (yoy). Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik.

Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, mengemukakan, posisi ULN Pemerintah pada Januari 2026 tercatat sebesar US$216,3 miliar atau secara tahunan tumbuh 5,6% (yoy). Ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 5,5% (yoy).

Perkembangan ULN pada Januari 2026 tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah serta aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sebagai salah satu instrumen dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal serta memperkuat perekonomian nasional.

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,6%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%). Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah.

Sementara itu, posisi ULN swasta tercatat sebesar US$193 miliar pada Januari 2026, menurun  dibandingkan dengan posisi pada Desember 2025 sebesar US$194 miliar. Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,7% (yoy) pada Januari 2026, lebih dalam dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0,2% (yoy). Penurunan posisi ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,1% terhadap total ULN swasta. ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,2% terhadap total ULN swasta.

Ramdan menjelaskan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,6% pada Januari 2026 dari 29,9% pada Desember 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 85,6% dari total ULN.

Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, BI dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Bahlil Tekan INPEX Percepat Proyek Masela, Nilai Investasi Capai Rp339 Triliun

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Pemerintah mendorong percepatan pembangunan Proyek Abadi...

Dari Tanah Liat ke Harapan, Usaha Genteng Hena Gian Hermana Tumbuh Bersama Dukungan BRI

STOCKWATCH.ID (MAJALENGKA) – Di sebuah sudut kampung di Kabupaten...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru