STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) mencatatkan kenaikan kinerja pada kuartal pertama (Q1) 2026. Hal ini terjadi meski perusahaan sempat menurunkan produksi pada tahun sebelumnya. Kenaikan harga batu bara dunia menjadi faktor utama pendorong performa emiten tambang tersebut.
Direktur Utama PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), Widada menjelaskan rahasia di balik kenaikan kinerja ini. Kebijakan pemotongan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) membawa berkah bagi perusahaan. Harga batu bara pada Q1 2026 lebih tinggi dibanding tahun 2025 maupun 2024.
“Alhamdulillah kita diberkati dengan kebijakan pemotongan RKAB, harga batu bara di Q1 2026 naik, dibanding dengan 2025 maupun 2024,” ujar Widada dalam paparan public di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Widada menambahkan operasional perusahaan kini jauh lebih efektif. Strategi jangka panjang perusahaan juga mulai menunjukkan hasil nyata.
Pada Q1 2026, total produksi batu bara BSSR tercatat sebesar 3,430 juta ton. Produksi ini berasal dari anak usaha, PT Antang Gunung Meratus (AGM) sebanyak 2,132 juta ton. Sisanya berasal dari tambang BSSR sendiri sebesar 1,298 juta ton.
Angka penjualan pada tiga bulan pertama 2026 mencapai 3,786 juta ton. Perusahaan memantau ketat pergerakan harga acuan dunia. Per Mei 2026, harga batu bara acuan HBA I 5.300 GAR berada di level USD 80,15. Sementara itu, HBA 0 6.322 GAR nangkring di posisi USD 113,88.
Sebelumnya, BSSR sengaja menahan laju produksi sepanjang tahun 2025. Total produksi saat itu mencapai 17,843 juta ton. AGM menyumbang 12,498 juta ton dan tambang BSSR sebesar 5,345 juta ton. Penjualan selama 2025 terkumpul sebanyak 17,579 juta ton.
Widada mengungkapkan alasan manajemen menurunkan produksi pada tahun lalu. Kondisi pasar global saat itu sedang tidak menentu. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan Donald Trump dan aturan harga minimum HBA.
“Keputusan dari manajemen untuk menurunkan produksi di tahun 2025 kalau mengajar sekarang sih itu keputusan yang tepat sih. Karena sekarang ICI4 sudah di 67,” jelas Widada.
Harga indeks ICI4 sempat merosot hingga ke level USD 43 pada awal 2025. Namun, kini harganya sudah merangkak naik ke posisi USD 67 per ton.
Tiongkok masih menjadi pelanggan setia batu bara BSSR. Porsi penjualan ke Negeri Tirai Bambu mencapai 36,85% atau sekitar 5,31 juta ton pada 2025. Pasar dalam negeri Indonesia menempati urutan kedua dengan porsi 30,41% atau setara 6,36 juta ton.
India menyusul di posisi ketiga dengan porsi 18,11% atau 3,26 juta ton. Negara lain seperti Korea Selatan, Filipina, dan Thailand juga ikut membeli dengan total porsi 14,63%.
BSSR saat ini mengelola dua wilayah tambang utama. Lokasinya berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Tambang di Kalimantan Selatan dikelola oleh AGM yang 100% sahamnya dimiliki oleh BSSR.
Hingga 31 Desember 2025, total cadangan batu bara perusahaan mencapai 32,3 juta ton. BSSR terus gencar melakukan kegiatan eksplorasi untuk menambah cadangan. Fokus eksplorasi saat ini berada di wilayah blok 5, blok 6, dan blok 7 milik anak usaha. Luas total wilayah operasional mencapai 22.000 hektar.

