STOCKWATCH.ID (JAKARTA)– PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) menatap tahun 2026 dengan penuh optimisme. Perusahaan tambang ini mematok target produksi mencapai 17 juta ton.
Direktur Utama PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), Widada menjelaskan rencana besar tersebut. Target itu terbagi menjadi 11 juta ton untuk anak usaha yaitu PT Antang Gunung Meratus (AGM) dan 6 juta ton untuk BSSR.
Namun, saat ini pemerintah baru menyetujui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sekitar 11 juta ton. Jumlah itu terdiri atas 7,7 juta ton dan 3,4 juta ton.
“Semoga akan dibuka opportunity untuk mendapatkan ekstra kuota nanti seperti tahun-tahun lalu di bulan Juli 2026 ini,” ujar Widada dikutip Selasa (16/6/2026).
Jika kuota tambahan dibuka, perusahaan segera mengajukan sesuai keinginan awal. Widada mengaku sulit memprediksi target pendapatan dan laba secara pasti untuk tahun ini.
Hal ini karena banyak faktor yang berubah. Mulai dari harga minyak, harga batu bara, hingga nilai tukar Rupiah. Kebijakan ekspor satu pintu dari pemerintah juga menjadi faktor penentu.
“Saya yakin pemerintah pasti akan mensupport industri batu bara di Indonesia dengan segala kebijakannya,” kata Widada.
Melihat kinerja tahun sebelumnya, BSSR mencatatkan penjualan USD 703,77 juta sepanjang 2025. Angka ini menurun jika dibandingkan perolehan tahun 2024 senilai USD 947,77 juta.
Penurunan juga terjadi pada sisi laba bersih. Perusahaan meraup laba bersih USD 84 juta pada 2025. Pada tahun sebelumnya, laba bersih tercatat sebesar USD 131,6 juta.
Walaupun laba menyusut, kondisi keuangan perusahaan tetap sehat. Margin EBITDA berada di level 23,31% pada 2025. Tingkat pengembalian ekuitas atau ROE juga masih tinggi di angka 30,76%.
Terkait belanja modal atau capex, BSSR menyiapkan dana USD 26,3 juta untuk tahun 2026. Angka ini turun 28% dibandingkan anggaran tahun 2025 yang mencapai USD 44,72 juta.
Direktur BSSR, Wong Liong Tje memaparkan sebagian besar dana itu untuk pembebasan lahan. Porsinya mencapai 71% dari total anggaran.
“Sisanya itu untuk yang non-land itu pastinya replacement ya, replacement dari heavy equipment, fixed plant dan sebagainya,” jelas Wong.
Hingga triwulan pertama 2026, penyerapan capex baru mencapai 12,7%. Dana tersebut berasal dari kas internal perusahaan. Proses penyerapan dana lahan sangat bergantung pada hasil negosiasi dengan warga.
Mengenai aksi korporasi, BSSR memilih sikap waspada. Perusahaan masih memantau perkembangan kebijakan terbaru pemerintah.
“Kita terus terang wait and see, wait and see dulu. Tapi kita sih sangat terbuka kalau ada projek-projek yang feasible,” tutur Widada.
Sebagai informasi, pada 2025 lalu BSSR memakai dana capex sebesar USD 36,88 juta. Sebagian besar uang itu, yakni USD 33,69 juta, digunakan untuk urusan lahan. Sisanya sebesar USD 3,19 juta dipakai untuk keperluan non-lahan

