STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat tajam pada akhir perdagangan Rabu (08/04/2026) waktu setempat. Pasar global bernapas lega setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati perjanjian gencatan senjata bersyarat. Sentimen positif ini memicu reli kenaikan di hampir seluruh sektor.
Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir melonjak 3,7% ke posisi 613,50. Seluruh bursa regional utama menutup sesi di zona hijau. Indeks DAX Jerman memimpin penguatan dengan kenaikan signifikan 5,06% ke posisi 24.080,63.
Indeks CAC 40 Perancis melesat 4,49% ke level 8.263,87. FTSE MIB Italia melonjak 3,70% ke posisi 47.091,55. IBEX 35 Spanyol meningkat 3,94% ke level 18.132,30. Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris menguat 2,51% ke level 10.608,88.
Sektor perjalanan dan rekreasi menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan 7,1%. Sektor industri menyusul dengan penguatan 6,6% dan sektor konstruksi naik 6,2%. Saham maskapai penerbangan seperti Lufthansa dan Easyjet terbang tinggi dengan kenaikan masing-masing sekitar 10%.
Pasar bereaksi positif setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangguhan rencana serangan terhadap infrastruktur Iran. Langkah ini berlaku selama dua minggu. Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui akun Truth Social miliknya pada Selasa malam.
Gencatan senjata ini memiliki syarat khusus. Iran harus menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman. Merespons hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan angkatan bersenjata Teheran akan menghentikan operasi pertahanan mereka.
Kabar damai ini langsung menekan harga minyak dunia. Harga minyak mentah anjlok hingga di bawah 100 USD per barel. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menghancurkan seluruh peradaban Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Di sisi korporasi, Shell melaporkan laba perdagangan minyak yang jauh lebih tinggi. Namun, produksi gas alam cair (LNG) mereka mengalami gangguan akibat konflik tersebut. Produksi LNG Shell turun menjadi kisaran 880.000 hingga 920.000 barel setara minyak pada kuartal pertama 2026.
Dan Coatsworth, Head of Markets di AJ Bell, memberikan komentarnya terkait kondisi Shell. Ia melihat adanya dampak ganda dari situasi geopolitik ini terhadap raksasa energi tersebut.
“Meskipun lonjakan besar harga energi seharusnya mendongkrak laba Shell, perusahaan juga memiliki jejak operasional yang signifikan di Timur Tengah yang terganggu oleh pertempuran tersebut,” ujar Coatsworth.
Ia menambahkan kondisi operasional perusahaan mencerminkan situasi pasar saat ini. Hal tersebut terlihat dari laporan kinerja terbaru perusahaan.
“Dikotomi ini tercermin dalam pembaruan terbaru Shell, dengan produksi gas yang terpukul oleh gangguan ini, namun margin penyulingan dan pendapatan perdagangan minyak mengalami peningkatan,” tambah Coatsworth.
Saham Shell yang tercatat di bursa London berakhir turun 4,7% pada akhir sesi. Sektor minyak dan gas menjadi satu-satunya sektor yang memerah di bursa Eropa hari ini. Investor terus memantau perkembangan di Timur Tengah meski beberapa negara melaporkan masih adanya serangan drone dan rudal.
