Perundingan AS-Iran Buntu, Dow Futures Langsung Terjun Bebas 517 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat (AS) merosot tajam pada Minggu malam (12/4/2026) waktu setempat atau Senin pagi (13/4/2026) WIB. Penurunan ini dipicu pengumuman Presiden Donald Trump mengenai blokade Selat Hormuz. Langkah tersebut diambil setelah pembicaraan damai antara AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan.

Mengutip CNBC International, data perdagangan menunjukkan Dow Jones Industrial Average futures jatuh 517 poin atau 1,1%. S&P 500 futures juga melemah 1,1%. Sementara itu, Nasdaq 100 futures terkoreksi 1,2%.

“Angkatan Laut Amerika Serikat akan segera memulai proses pemblokiran setiap dan semua kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.

Trump menegaskan blokade akan segera dimulai. Ia juga melibatkan negara-negara lain dalam aksi tersebut. Menurutnya, Iran tidak akan dibiarkan mengambil keuntungan dari tindakan pemerasan ilegal.

Kegagalan negosiasi di Islamabad, Pakistan, kembali memicu kekhawatiran pasar. Investor cemas perang AS-Iran akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Hal ini berpotensi mengerek harga minyak dan menekan ekonomi global.

Harga minyak mentah WTI langsung melonjak 7,9% ke level USD 104,19 per barel saat perdagangan dibuka Minggu malam. Komando Pusat AS menyatakan penutupan seluruh lalu lintas maritim dari dan menuju pelabuhan Iran dimulai Senin pukul 10.00 waktu setempat. Namun, AS tidak akan memblokir kapal yang menuju pelabuhan non-Iran.

Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa hasil kesepakatan. Pihak Iran menolak menghentikan pengejaran senjata nuklir. Selain itu, Iran menuntut kontrol atas Selat Hormuz, reparasi perang, serta pelepasan aset yang dibekukan.

Jeff Kilburg, CEO KKM Financial, menilai langkah ini sebagai strategi dalam pasar ekuitas. Ketidakpastian konflik Iran masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar.

“Pernyataan blokade baru ini merupakan sinyal nyata bagi pasar ekuitas. Ketidakpastian konflik Iran masih berlanjut,” ujar Kilburg.

Sebelumnya, pasar sempat menguat berkat harapan berakhirnya perang. Ketiga indeks utama AS mencatat pekan terbaiknya sejak November lalu. S&P 500 naik 3,6%, Nasdaq melonjak 4,7%, dan Dow menguat 3% dalam sepekan terakhir.

Di sisi lain, musim laporan keuangan kuartal pertama akan dimulai pekan ini. Sejumlah bank besar dijadwalkan merilis kinerjanya. Goldman Sachs akan memulai pada hari Senin. Diikuti oleh Citigroup, Wells Fargo, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Bank of America pada hari-hari berikutnya.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (10/4/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (11/4/2026). Indeks Nasdaq berhasil bertahan di zona hijau di tengah pelemahan dua indeks utama lainnya. Nasdaq Composite menguat 80,477 poin atau 0,35% ke level 22.902,894.

Sebaliknya, indeks S&P 500 terpangkas 7,77 poin atau 0,11% menjadi 6.816,89. Penurunan lebih tajam dialami Dow Jones Industrial Average (DJIA). Indeks tersebut anjlok 269,23 poin atau 0,56% ke posisi 47.916,57 pada penutupan perdagangan. Pergerakan pasar ini mencerminkan sikap hati-hati investor sebelum munculnya pengumuman blokade Selat Hormuz pada Minggu malam.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Sinyal Damai Ukraina-Rusia Menguat, Bursa Saham Eropa Parkir di Zona Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Mayoritas Bursa Saham Asia Parkir di Zona Hijau Jelang Akhir Pekan

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas...

Wall Street Lanjutkan Reli, Indeks Dow Jones Berbalik Positif Sepanjang Tahun 2026

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru