Pefindo Proyeksi Penerbitan Surat Utang Korporasi 2026 Tembus Rp175,77 Triliun

STOCKWATCH (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan surat utang korporasi nasional tetap solid sepanjang tahun 2026. Nilai penerbitan diproyeksikan berada pada rentang Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun.

Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, menyebut titik tengah dari target tersebut mencapai Rp175,77 triliun. Angka ini didukung oleh tingginya nilai surat utang yang akan jatuh tempo.

Sepanjang Mei hingga Desember 2026, terdapat surat utang senilai Rp124,12 triliun yang memasuki masa jatuh tempo. Kondisi ini menjadi pendorong utama bagi korporasi untuk melakukan penerbitan ulang atau refinancing.

“Jatuh tempo di sisa periode tahun ini masih relatif tinggi. Ini masih akan menjadi bahan bakar untuk faktor refinancing,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Selain faktor refinancing, pertumbuhan ekonomi domestik yang kuat turut menjadi penopang. Kebijakan fiskal pemerintah tahun ini dinilai lebih ekspansif dibandingkan tahun sebelumnya. Kebijakan moneter juga terus diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta inflasi.

Suhindarto menjelaskan biaya dana di pasar surat utang korporasi saat ini masih sangat kompetitif. Imbal hasil (yield) instrumen ini relatif lebih murah jika dibandingkan dengan suku bunga kredit perbankan atau average lending rate.

Permintaan dari sisi investor juga terpantau masih sangat kuat. Para pemodal aktif mencari imbal hasil yang lebih tinggi di pasar alternatif. Hal ini dipicu oleh kondisi suku bunga yang tetap rendah dan performa pasar saham yang kurang bergairah.

“Pasar surat utang korporasi ini menyediakan pilihan bagi investor untuk bisa menanamkan modalnya dengan imbal hasil yang juga cukup menarik,” jelasnya.

Meski prospek terlihat cerah, Pefindo tetap mewaspadai sejumlah tantangan serius. Risiko geopolitik akibat perang di Timur Tengah menjadi perhatian utama. Konflik tersebut berpotensi memicu fluktuasi pasar dan mendorong kenaikan imbal hasil ke depan.

Depresiasi nilai tukar rupiah juga menjadi faktor risiko bagi pergerakan yield. Penurunan nilai mata uang dikhawatirkan memicu kenaikan harga barang impor atau imported inflation.

Tantangan lain datang dari sikap selektif investor. Saat ini terdapat kecenderungan investor hanya menyukai surat utang dengan peringkat Single A ke atas. Fenomena ini berisiko menekan minat penerbitan bagi perusahaan dengan peringkat di bawahnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pefindo Kantongi Mandat Surat Utang Rp66,28 Triliun per Maret 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengantongi...

Penerbitan Surat Utang Korporasi Kuartal I 2026 Tembus Rp59,35 Triliun, Naik 26,97%

STOCKWATCH (JAKARTA) – Pasar surat utang korporasi nasional tampil...

Berprospek Stabil, Pefindo Tegaskan Peringkat idAA untuk Aneka Tambang (ANTM)

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru