STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) atau disebut Jaya Ancol membukukan pendapatan usaha Rp207,57 miliar pada triwulan I 2026. Hasil ini turun 1,53% dibandingkan pendapatan usaha PJAA sebesar Rp210,80 miliar pada triwulan I 2025.
Dalam laporan keuangan PJAA per Maret 2026, terungkap, di tengah penurunan pendapatan usaha, beban pokok pendapatan dan beban langsung meningkat 10,69%, dari Rp136,62 miliar menjadi Rp151,22 miliar. Akibatnya laba bruto PJAA merosot 24,04% dari Rp74,18 miliar per Maret 2025 menjadi Rp56,35 miliar per Maret 2026.
Selain itu, jumlah beban usaha PJAA menikgkat 24,61% dari Rp56,77 miliar menjadi Rp70,74 miliar per Maret 2026. Hal ini menyebabkan PJAA mengalami rugi usaha sebesar Rp14,39 miliar per Maret 2026. Padahal diperiode yang sama di tahun 2025, PJAA masih mencatat laba usaha Rp17,41 miliar.
Alhasil, rugi bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp38,80 miliar (Rp24 per saham) pada triwulan I 2026. Angka ini naik 247,36% dibandingkan rugi bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp11,17 miliar (Rp7 per saham) pada triwulan I 2025.
Sementara itu, total aset PJAA turun 3,03% dari Rp3,63 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp3,52 triliun per 31 Maret 2026. Total liabilitas turun 3,95% dari Rp1,77 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp1,70 triliun per 31 Maret 2026. Adapun jumlah ekuitas PJAA tercatat Rp1,82 triliun per 31 Maret 2026, turun 2,15% dari Rp1,86 triliun per 31 Desember 2025.
