STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia ditutup merosot pada akhir perdagangan Kamis (30/4/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (1/5/2026) WIB. Pelemahan ini terjadi setelah harga minyak Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli ditutup turun lebih dari 3%. Harga minyak acuan global ini berakhir pada level 114,01 USD per barel di London ICE Futures Exchange. Sebelumnya, harga sempat melonjak ke level tertinggi 126 USD di awal sesi perdagangan.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh lebih dari 1%. Minyak WTI menetap pada posisi 105,07 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga minyak awalnya melonjak dipicu laporan Axios terkait rencana Komando Pusat AS. Mereka akan mempresentasikan rencana kemungkinan aksi militer terhadap Iran kepada Presiden Donald Trump. Laporan ini mengutip dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Sentimen pasar juga dipengaruhi sikap keras Trump. Ia dilaporkan menolak usulan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Blokade angkatan laut tetap diberlakukan sampai kesepakatan nuklir yang lebih luas tercapai.
Warren Patterson, Head of Commodities Strategy di bank Belanda ING, memberikan catatan riset terkait situasi ini. “Pasar minyak telah berpindah dari optimisme berlebihan ke realitas gangguan pasokan yang kita lihat di Teluk Persia,” ujar Warren Patterson.
Ia menambahkan, semakin lama gangguan ini bertahan, pasar tidak bisa lagi mengandalkan inventaris. Hal tersebut akan memicu kebutuhan akan penghancuran permintaan lebih lanjut. Satu-satunya cara mendorong hal ini adalah melalui harga minyak yang lebih tinggi.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor melalui titik transit Selat Hormuz telah jatuh. Saat ini volumenya hanya tinggal 4% dari level normal. Negosiasi AS–Iran yang terhenti dan blokade AS terus memperketat pasokan global.
Analis Goldman Sachs menyebut terbatasnya kapasitas penyimpanan dapat memperdalam gangguan pasokan jika blokade berlanjut. Rencana Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari OPEC juga diprediksi tidak akan banyak membantu dalam waktu dekat. Tambahan produksi dari UEA kemungkinan baru terealisasi secara bertahap dalam jangka menengah.
Trump melontarkan ancaman baru kepada Iran melalui media sosial. Ia memperingatkan agar negara tersebut segera bertindak cerdas. Trump menegaskan Iran tidak tahu cara menandatangani perjanjian non-nuklir.
Bill Perkins, Chief Investment Officer di Skylar Capital Management, menilai pasar minyak digerakkan oleh campuran gangguan fisik, geopolitik, dan psikologi investor. Para pedagang memantau ketat pergerakan kapal tanker dan sinyal politik selama konflik AS–Iran berlangsung.
“Kita agak jauh dari kesepakatan, dan mungkin permusuhan atau sedikit lebih banyak waktu [dibutuhkan] untuk membuka Selat Hormuz,” kata Bill Perkins.
Meskipun cadangan strategis membantu meredam harga, pasar produk minyak tetap mengalami tekanan signifikan. Hal ini terlihat dari lonjakan tajam harga diesel dan hambatan logistik yang terus berlanjut.
Goldman Sachs mencatat adanya risiko penurunan permintaan secara global. Konsumsi minyak pada April diperkirakan 3,6 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan level Februari. Kelemahan ini terkonsentrasi pada bahan bakar jet dan bahan baku petrokimia.
Bill Perkins memprediksi harga minyak bisa melonjak ke arah 140 USD hingga 150 USD per barel jika gangguan terus menetap. Namun, level harga yang sangat tinggi tersebut pada akhirnya akan membatasi permintaan pasar.
Sejauh ini, harga Brent dan WTI telah melonjak sekitar 60% sejak awal konflik. Perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran tersebut dimulai pada 28 Februari lalu. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi ketidakpastian pasokan yang lebih lama.
