STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 4% pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (6/5/2026) WIB. Penurunan harga minyak ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi perang skala penuh di kawasan Timur Tengah usai rentetan serangan terhadap Uni Emirat Arab (UEA).
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun sekitar 4%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 109,87 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh sekitar 4%. Minyak WTI berakhir pada posisi 102,27 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memastikan gencatan senjata dengan Iran masih terus berlangsung. Pernyataan ini sukses meredam kepanikan pasar minyak global.
Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, turut memberikan penilaian terkait eskalasi militer ini. Ia menyebut serangan Iran belum memicu operasi tempur dalam skala besar.
“Serangan tersebut berada di bawah ambang batas untuk memulai kembali operasi tempur besar pada saat ini,” ujar Dan Caine.
Militer AS juga telah meluncurkan operasi pengamanan di perairan kawasan tersebut. Langkah ini bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal komersial.
Dua kapal komersial AS beserta sejumlah kapal perusak dilaporkan telah melintasi selat dengan aman. Perusahaan pelayaran Denmark, Maersk, juga mengonfirmasi kapal berbendera AS milik mereka, Alliance Fairfax, berhasil melintasi jalur tersebut di bawah perlindungan militer.
“Pada akhirnya Presiden akan membuat keputusan jika terjadi eskalasi pelanggaran gencatan senjata,” kata Pete Hegseth.
Pete Hegseth menegaskan jalur perairan Selat Hormuz kini terpantau aman dan terbuka. Ia juga secara terbuka menepis klaim sepihak Iran terkait kendali atas jalur strategis tersebut.
“Kami tahu pihak Iran merasa malu dengan fakta ini,” tegasnya.
Meski demikian, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya padam. Presiden AS Donald Trump memberikan ancaman keras melalui sebuah wawancara televisi. Ia siap menghancurkan Iran jika mereka berani menargetkan armada kapal AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung merespons panasnya situasi ini. Ia menekankan ketiadaan solusi militer untuk mengakhiri krisis politik yang sedang terjadi.
“Karena pembicaraan sedang mengalami kemajuan dengan upaya mulia Pakistan, AS harus berhati-hati agar tidak terseret kembali ke dalam rawa oleh pihak-pihak yang berniat buruk,” tulis Abbas Araghchi melalui akun media sosialnya.
Di tengah memanasnya situasi, Irak dilaporkan menawarkan diskon besar untuk pembeli minyak mentah bulan ini. Langkah ini diambil menyusul keengganan sejumlah armada kapal tanker untuk melintasi Selat Hormuz.
Penutupan jalur perdagangan sebelumnya juga memicu kekhawatiran pasokan bahan bakar. CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan potensi kelangkaan energi yang makin nyata di beberapa belahan dunia.
“Saya pikir seiring orang melihat kenyataan pasokan yang sangat ketat, ini bukan sekadar masalah harga. Sebenarnya — bisakah kita mendapatkan bahan bakar tersebut?” ucap Mike Wirth.
Laporan terbaru Goldman Sachs memperkirakan total stok minyak global saat ini hanya cukup untuk 101 hari permintaan. Jumlah stok gabungan ini diproyeksikan akan terus turun menjadi 98 hari pada akhir Mei mendatang.
Goldman Sachs juga menyoroti peningkatan risiko kelangkaan produk olahan energi di sejumlah negara. Ancaman penipisan stok bahan bakar ini terutama membayangi Afrika Selatan, India, Thailand, dan Taiwan.
