Bursa Saham Asia Melemah, Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Tekan Pasar

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia tergelincir pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Di sisi lain, harga minyak dunia mulai melandai namun tetap berada jauh di atas USD 100 per barel. Amerika Serikat (AS) dan Iran masih terus mengupayakan gencatan senjata di tengah konflik yang kembali memanas di Selat Hormuz.

Mengutip CNBC International, indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,3%. Saham di Australia turun 0,4% di tengah perdagangan Asia yang sepi. Pasar saham di Jepang dan Korea Selatan ditutup karena libur nasional.

AS dan Iran saling melancarkan serangan baru di Teluk pada hari Senin. Keduanya berebut kendali atas Selat Hormuz melalui blokade maritim. Insiden ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump berupaya memandu kapal melewati jalur perdagangan energi yang vital tersebut.

Perusahaan pelayaran Maersk melaporkan kapal pembawa kendaraan berbendera AS, Alliance Fairfax, telah keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz pada hari Senin. Kapal yang dioperasikan oleh anak perusahaannya, Farrell Lines, ini melintas dengan pengawalan aset militer AS.

Konflik yang kembali memanas ini mengguncang pasar. Insiden tersebut menjadi pengingat keras perang di Timur Tengah masih jauh dari kata usai.

Tony Sycamore, analis pasar di IG, memberikan pandangannya terkait operasi penyelamatan kapal tersebut.

“Kami memulai hari kemarin dengan harapan tinggi operasi ‘Project Freedom’ akan menjadi, saya kira, sebuah keberhasilan di lapangan, itu dipromosikan lebih sebagai upaya kemanusiaan,” kata Sycamore.

“Tetapi seperti yang kita lihat, pihak Iran sama sekali tidak memakan umpan itu… Ini benar-benar menandakan kebuntuan tetap ada, ini merupakan awal yang sangat goyah,” tambahnya.

Di luar isu geopolitik, investor juga bersiap menyambut rilis laporan keuangan perusahaan minggu ini. Advanced Micro Devices dan Pfizer dijadwalkan merilis kinerja keuangan mereka hari ini.

Data S&P Global Market Intelligence menunjukkan 83% perusahaan di S&P 500 telah melaporkan laba per saham di atas perkiraan. Selain itu, 78,2% dari perusahaan tersebut berhasil melampaui estimasi pendapatan.

“Dengan tidak adanya tanda-tanda perlambatan, pengeluaran yang didorong oleh AI kemungkinan akan terus melakukan pekerjaan berat untuk pertumbuhan pendapatan S&P 500, dipimpin oleh sektor teknologi,” ujar Jeff Buchbinder, Kepala Ahli Strategi Ekuitas di LPL Financial.

Mata uang Yen Jepang juga menjadi sorotan. Yen stabil di level 157,22 per dolar AS setelah sempat melonjak tajam pada hari Senin ke angka 155,69.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menentang keras perdagangan spekulatif valuta asing. Hal ini membuat pelaku pasar waspada terhadap kemungkinan intervensi lanjutan. Sebelumnya, sumber Reuters menyebut Tokyo telah melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya pada hari Kamis.

Abbas Keshvani, Ahli Strategi Makro Asia di RBC Capital Markets, menilai otoritas Jepang bisa saja kembali melakukan intervensi. Hal ini bisa terjadi jika nilai tukar dolar/yen terus menguji level 160. Level tersebut secara historis selalu dipertahankan oleh Tokyo melalui tiga kali intervensi dalam beberapa minggu pada 2022 lalu.

“Kami menduga intervensi hanya akan bertindak sebagai penutup pada USD/JPY, bukan katalisator untuk penguatan yen yang berkepanjangan,” ucap Keshvani.

Di tempat lain, dolar Australia melemah 0,06% menjadi USD 0,7163. Pelemahan ini terjadi menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) yang diperkirakan akan naik. Sementara itu, dolar AS menguat karena tingginya permintaan sebagai aset aman.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) diprediksi bisa berubah akibat rentetan data ekonomi minggu ini. Salah satunya adalah laporan tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) bulan April yang akan dirilis pada hari Jumat.

Ekonomi AS diperkirakan menambah 62.000 pekerjaan. Angka ini menyusul lonjakan penambahan 178.000 pekerjaan pada bulan Maret. Namun, masalah penyesuaian musiman menimbulkan banyak ketidakpastian.

Pasar saat ini memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunganya tahun ini. Kebijakan ini dipengaruhi oleh tekanan inflasi akibat guncangan energi global.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Baru Sehari Jalan, Trump Mendadak Stop Project Freedom di Selat Hormuz, Ada Apa?

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump...

Wall Street Futures Menguat, Donald Trump Klaim Kemajuan Besar dengan Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) — Kontrak berjangka saham Amerika Serikat...

Wall Street Cetak Rekor Baru, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Kompak Melejit

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru