STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (5/5/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (6/5/2026) WIB.
Mengutip CNBC International, harga emas spot naik 0,8% menjadi USD 4.557,56 per ons. Di pasar berjangka AS, kontrak emas ditutup menguat 0,8% ke level USD 4.568,50 per ons.
Kenaikan harga emas terjadi setelah sempat menyentuh level terendah. Level tersebut merupakan yang paling rendah sejak 31 Maret lalu. Investor kini sedang mencermati gencatan senjata di Timur Tengah.
Konflik di wilayah tersebut masih sangat rapuh. Pelaku pasar terus menakar dampaknya terhadap inflasi dan suku bunga. Kondisi ini turut mempengaruhi pergerakan logam mulia.
Jim Wyckoff, Analis Pasar di American Gold Exchange, memberikan pandangannya. Ia melihat adanya aksi beli dari para investor.
“Kami melihat beberapa perburuan barang murah setelah aksi jual baru-baru ini, dan pelemahan harga minyak juga memberikan dukungan. Pasar akan terus mengamati berita utama, tetapi kita bisa melihat fokus sedikit bergeser ke arah data ekonomi,” ujar Jim Wyckoff.
Wyckoff juga menyoroti kebutuhan pendorong utama bagi harga emas.
“Investor bullish emas membutuhkan percikan fundamental yang signifikan untuk mendapatkan kembali pijakannya,” tambahnya.
Situasi geopolitik global masih memanas. Uni Emirat Arab mengaku mendapat serangan rudal dan pesawat nirawak dari Iran. Sementara itu, Washington menegaskan gencatan senjata masih berlaku.
Kondisi ini terjadi meski sempat ada baku tembak sehari sebelumnya. Pasukan AS berusaha membuka kembali Selat Hormuz. Jalur air sempit ini sangat penting bagi pasokan global.
Selat Hormuz mengangkut sebagian besar pasokan minyak dan pupuk dunia. Jalur ini hampir ditutup total sejak serangan 28 Februari lalu. Penutupan tersebut memicu lonjakan harga barang di berbagai negara.
Harga minyak mulai turun pada perdagangan hari Selasa. Namun, tingkat penurunannya masih sangat terbatas. Tingginya harga energi berisiko memicu inflasi dan menunda pelonggaran kebijakan bank sentral.
Emas sering dianggap sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tariknya menurun saat suku bunga tinggi. Imbal hasil yang tinggi membuat aset tanpa bunga ini kurang diminati.
Fawad Razaqzada, Analis Pasar di City Index, melihat permintaan terhadap aset aman tetap ada. Menurutnya, peran emas mulai melemah karena makin sensitif terhadap risiko.
“Meskipun demikian, kebutuhan untuk lindung nilai terhadap inflasi, di samping pembelian berkelanjutan dari bank sentral, telah membantu membatasi pergerakan turun yang lebih dalam sejauh ini,” kata Fawad Razaqzada.
Akhir pekan ini, AS akan merilis data ketenagakerjaan bulan April. Data ini akan menguji ketahanan ekonomi negara tersebut. Hasilnya bisa menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Pasar akan melihat peluang bank sentral AS menahan suku bunga. Pelemahan pasar tenaga kerja juga bisa menghidupkan kembali opsi pemangkasan suku bunga.
Tren positif ini turut menjalar ke logam mulia lainnya. Harga perak spot menguat 0,4% menjadi USD 73,03 per ons.
Kenaikan serupa juga dialami oleh platinum dan paladium. Harga platinum naik 1% ke level USD 1.963,30 per ons. Sementara itu, harga paladium melesat 1,5% menjadi USD 1.501,41 per ons.
