STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak bervariasi cenderung melemah pada akhir perdagangan Kamis (28/5/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (29/5/2026) WIB. Harga si emas hitam ini menghapus keuntungan yang diraih pada awal sesi. Penurunan terjadi usai negosiator Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan perpanjangan gencatan senjata.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 0,58 USD. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 93,71 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik tipis 0,22 USD. Minyak WTI berakhir pada posisi 88,90 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Laporan dari sumber AS menyebutkan para negosiator telah menyepakati nota kesepahaman (MOU) selama 60 hari. Kesepakatan ini bertujuan memperpanjang gencatan senjata. Selain itu, kedua negara akan memulai negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Meski demikian, kesepakatan tersebut belum sepenuhnya final. Presiden Donald Trump masih harus memberikan persetujuan resminya terhadap MOU tersebut. Kabar mengenai kesepakatan ini pertama kali muncul dari laporan Axios.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam pada awal perdagangan Kamis. Hal ini dipicu oleh aksi saling serang militer antara AS dan Iran. Garda Revolusi Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan udara AS pada dini hari waktu setempat.
Komando Pusat AS kemudian melaporkan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait. Beruntung, serangan tersebut berhasil dicegat. Ketegangan ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Serangan Iran tersebut merupakan balasan atas aksi militer Amerika sebelumnya. Pasukan AS meluncurkan serangan baru terhadap lokasi militer di Iran. Lokasi itu dianggap mengancam pasukan AS dan pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Beberapa drone milik Iran juga dilaporkan berhasil dijatuhkan. Eskalasi militer ini sempat membuat pasar khawatir akan penutupan jalur perdagangan minyak utama dunia tersebut.
Citigroup memberikan analisanya melalui sebuah catatan yang diterbitkan Rabu malam. Pihak bank menilai pasar minyak mulai menemukan pijakan yang lebih stabil. Investor mulai mengabaikan skenario terburuk gangguan pasokan.
Kondisi ini terjadi seiring tanda-tanda Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan. Namun, Citigroup tetap memperingatkan adanya ketidakpastian mengenai waktu penandatanganan kesepakatan.
Amos Hochstein, mantan penasihat energi senior Presiden Joe Biden, turut memberikan pandangannya. Ia menilai para pemimpin di Timur Tengah percaya Iran telah memegang kendali efektif atas Selat Hormuz.
“Tidak peduli apa yang terjadi, Iran akan mengendalikan Selat Hormuz di masa mendatang, bahkan tidak peduli apa yang tertulis dalam kesepakatan tersebut. Semua orang di kawasan itu meyakini hal itu,” ujar Amos Hochstein dalam wawancara dengan CNBC.
Sekretaris Negara Marco Rubio menyatakan pembicaraan kedua negara telah membuat beberapa kemajuan. Rubio menyebut Trump lebih menyukai jalur diplomasi. Presiden akan memberikan setiap kesempatan bagi pembicaraan dengan Iran untuk berhasil.
Kenaikan harga minyak yang berkepanjangan mulai berdampak pada tekanan inflasi yang lebih luas. Hal ini memicu beberapa bank sentral menjadi lebih agresif dalam kebijakan moneter mereka.
Amos menambahkan pelaku pasar di Wall Street sebenarnya sangat menginginkan perdamaian. Penurunan harga minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh harapan akan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
“Wall Street ingin perang berakhir, tetapi alasan perang tidak berakhir adalah karena Wall Street,” pungkas Amos.

