STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Ketegangan kembali memuncak di Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026). Iran menyatakan telah menutup jalur pelayaran penting tersebut dan memperingatkan kapal-kapal untuk menjauh. Namun, Amerika Serikat (AS) membantah klaim tersebut dan menegaskan jalur air itu tetap terbuka.
Langkah Iran ini muncul di tengah persiapan perundingan lanjutan di Swiss. Wakil Presiden AS, JD Vance, telah bertolak dari Washington menuju Swiss pada Sabtu malam. Ia dijadwalkan bertemu dengan delegasi Iran serta mediator dari Pakistan dan Qatar pada Minggu.
Komando militer gabungan Iran dan Korps Garda Revolusi Islam menyebut penutupan selat adalah balasan atas operasi militer Israel di Lebanon. Mereka menuduh AS menunjukkan iktikad buruk dan gagal memenuhi komitmen dalam kerangka gencatan senjata. Televisi pemerintah Iran menyatakan langkah-langkah selanjutnya telah direncanakan jika agresi terus berlanjut.
Pihak militer AS memberikan pernyataan berbeda. Mereka memastikan Selat Hormuz tidak tertutup. Pasukan AS terus memantau situasi untuk menjaga kelancaran lalu lintas kapal.
“Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz,” ujar Juru Bicara Komando Pusat AS, Navy Captain Tim Hawkins.
Tim menambahkan, lalu lintas kapal terus mengalir. Pasukan AS memantau situasi guna memastikan hal ini tetap terjaga.
Presiden Donald Trump turut menanggapi situasi ini melalui unggahan di media sosial Truth Social. Trump menegaskan pemerintahannya menganggap selat tersebut tetap terbuka. Ia bahkan memberi sinyal AS bisa mengenakan biaya kepada kapal yang melintas jika kesepakatan final tidak tercapai dalam 60 hari.
“Tidak akan ada tarif tol di Selat Hormuz selama 60 hari masa gencatan senjata. Tidak akan ada tarif tol setelah periode 60 hari berakhir, kecuali jika diberlakukan oleh dan untuk Amerika Serikat, jika kesepakatan tidak selesai,” tulis Donald.
Upaya Iran menutup selat ini meningkatkan risiko menjelang pembicaraan di Swiss. Perundingan ini bertujuan mematangkan kesepakatan sementara yang dicapai Rabu lalu antara Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian aksi militer Israel di Lebanon dan pembukaan kembali selat tanpa tarif selama minimal 60 hari.
Sebelum terbang ke Swiss, Vance menyatakan harapannya untuk membuat kemajuan terkait isu nuklir dan gencatan senjata di Lebanon. Ia menilai situasi di Lebanon mulai menunjukkan perbaikan meski berita utama media terlihat mencekam.
“Terlepas dari berita utama yang ada, keadaan sebenarnya membaik di sana (Lebanon), dan segala sesuatunya sedikit melambat,” kata Vance.
Vance menyebut diskusi teknis yang dipimpin Jared Kushner dan utusan khusus Steve Witkoff berjalan baik. Ia mengungkapkan volume pengiriman minyak justru melonjak tajam setelah adanya kesepakatan gencatan senjata.
“Kami benar-benar mengeluarkan 16 juta barel minyak dari Selat Hormuz kemarin. Itu adalah rekor bahkan sebelum konflik dimulai,” ungkap JD.
Fokus negosiator saat ini adalah mengamankan cadangan uranium Iran yang diperkaya. Tujuannya agar Iran tidak bisa membangun kembali program nuklirnya. Vance menekankan AS tetap memiliki kekuatan ekonomi yang besar jika Iran gagal mematuhi kesepakatan.
Di sisi lain, situasi kemanusiaan di Lebanon masih memprihatinkan. Serangan Israel di Lebanon selatan pada Sabtu pagi menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk dua anak-anak. Otoritas Lebanon melaporkan tujuh orang masih terjebak di bawah reruntuhan di wilayah Nabatiyeh dan desa-desa sekitarnya.

