STOCKWATCH.ID, Jakarta – PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penurunan kinerja keuangan pada kuartal I 2026. Perusahaan mencatat penurunan pendapatan usaha yang cukup tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, pendapatan usaha FORU tercatat sebesar Rp5,41 miliar. Angka ini merosot 87,99% dari posisi tahun 2025 yang mencapai Rp45,03 miliar. Beban langsung perusahaan juga ikut turun 93,07% menjadi Rp1,5 miliar.
Direktur & Corporate Secretary FORU, Hadi Pranggono menjelaskan penyebab utama penurunan ini. Penundaan jadwal kerja sama menjadi faktor kunci.
“Penurunan pendapatan tersebut terutama disebabkan oleh beberapa kontrak pekerjaan yang belum mulai berjalan pada Triwulan I Tahun 2026 dan dijadwalkan mulai berjalan pada periode selanjutnya,” kata Hadi dalam keterbukaan informasi di laman Bursa dikutip Sabtu (20//6/2026).
Kondisi ini membuat perusahaan mencatat rugi periode berjalan sebesar Rp4,15 miliar. Jumlah rugi komprehensif ini tercatat sebesar Rp4,15 miliar, menyusut 61,32% dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,57 miliar.
Dari sisi aset, total kekayaan perusahaan mencapai Rp33,55 miliar atau turun 13,18% dari Rp38,64 miliar. Penurunan ini didorong oleh berkurangnya piutang usaha sebesar 68%. Sementara itu, jumlah liabilitas atau utang perusahaan berada di angka Rp14,32 miliar. Ekuitas perusahaan juga tercatat turun 17,75% menjadi Rp19,23 miliar.
Menghadapi tantangan ini, FORU telah menyiapkan lima rencana strategis untuk sepanjang tahun 2026. Pertama, perusahaan fokus pada pengembangan sumber daya manusia melalui penguatan kompetensi tim.
Kedua, FORU mulai mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan data analytics. Langkah ini bertujuan meningkatkan efektivitas kampanye pemasaran pelanggan.
Ketiga, perusahaan membidik pasar internasional. FORU bekerja sama dengan pemegang sahamnya, IMR Asia Holding Pte. Ltd., untuk memperluas jangkauan ke tingkat regional maupun internasional.
Keempat, penguatan kemitraan strategis dengan berbagai pihak. Kelima, memperkuat brand positioning di industri komunikasi untuk menjaga reputasi sebagai mitra strategis.
Hadi juga menyoroti kondisi ekonomi makro yang memengaruhi bisnis. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat melemah lebih dari 7% sejak awal tahun. Selain itu, inflasi pada Mei 2026 mencapai 3,08% dan kenaikan suku bunga BI Rate sebesar 100 basis poin turut memengaruhi daya beli masyarakat.
Meskipun persaingan di industri periklanan dan digital semakin ketat, FORU optimis terus berkembang. Perusahaan memantau penggunaan media digital dan platform berbasis internet yang terus meningkat.
Sebagai bagian dari langkah strategis, FORU berencana melakukan penambahan modal. Aksi korporasi ini dilakukan melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau right issue.
“Perseroan berencana untuk melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu I (PMHMETD I), perubahan kegiatan usaha, transaksi material, dan transaksi afiliasi,” ujar Pranggono.
Hingga saat ini, perusahaan menyatakan tidak ada informasi material yang dapat memengaruhi harga saham secara drastis. Perusahaan juga tidak sedang menghadapi perkara hukum apa pun. Kinerja operasional tetap berjalan normal dengan fokus pada penyelesaian proyek yang sudah ada.

