spot_img

Harga Emas Dunia Naik di Tengah Bayang-Bayang Koreksi Mingguan

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merangkak naik pada perdagangan Jumat (26/6/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (27/6/2026) WIB. Kenaikan ini terjadi seiring melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). Meski begitu, harga emas masih berada dalam jalur penurunan mingguan selama empat pekan berturut-turut.

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 1,2% ke posisi 4.073,78 USD per ons troi. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman Agustus juga menguat 1,2% menjadi 4.096,30 USD per ons troi.

Indeks dolar AS terpantau melandai dari level tertingginya baru-baru ini. Kondisi tersebut terjadi setelah rilis data inflasi pilihan bank sentral AS atau The Fed pada Kamis. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS melonjak 4,1% dalam 12 bulan hingga Mei. Angka ini sesuai dengan perkiraan para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Ekspektasi kenaikan suku bunga AS kini sedikit mereda. Berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan bunga pada September sebesar 60%. Angka tersebut turun dari ekspektasi sebelumnya yang mencapai 64%.

Jim Wyckoff, seorang analis pasar di American Gold Exchange, memberikan analisanya terkait kondisi ini. Ia melihat adanya pemulihan harga setelah tekanan jual pada awal pekan.

“Emas melihat rebound moderat setelah berada di bawah tekanan jual awal pekan ini. Suku bunga yang lebih tinggi dan kebijakan moneter yang lebih ketat mengurangi daya tarik emas yang tidak menghasilkan imbal hasil, karena cenderung mendorong imbal hasil obligasi dan meningkatkan pengembalian aset berbunga,” ujar Jim Wyckoff.

Harga emas spot sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan pada awal pekan ini. Secara keseluruhan, harga emas turun 2,6% dalam sepekan terakhir. Kebijakan moneter ketat masih menjadi tekanan utama bagi logam mulia.

Lembaga keuangan TD Securities ikut memberikan catatan dalam risetnya. Mereka menyoroti hubungan terbalik antara emas dengan harga minyak dan dolar AS.

“Mengingat hubungan terbalik emas dengan harga minyak yang lebih tinggi dan dolar AS yang lebih kuat, kekuatan pasar energi yang berkelanjutan dapat memberikan tekanan turun lebih lanjut pada logam mulia dalam beberapa bulan mendatang,” tulis TD Securities.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kondisi di pasar fisik Asia. Di India, emas mulai diperdagangkan dengan harga premium untuk pertama kalinya dalam satu setengah bulan terakhir. Koreksi harga sebelumnya berhasil memicu minat beli konsumen di negara tersebut.

Kondisi berbeda terjadi di China sebagai konsumen emas terbesar dunia. Permintaan emas di Negeri Tirai Bambu dilaporkan tetap lemah. Hal ini menunjukkan minat beli masyarakat di sana masih belum pulih sepenuhnya meskipun harga sempat terkoreksi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas, Stock Futures dan Harga Minyak Kompak Menanjak

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Stock futures AS merangkak naik...

Harga Minyak Dunia Tersungkur, WTI Jebol di Bawah 70 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot tajam pada...

Pembahasan Belum Kelar, Kementerian ESDM Belum Putuskan Besaran RKAB Nikel 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru