STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Industri keuangan nasional dinilai masih memiliki fundamental yang kuat di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Meski begitu, perubahan lanskap bisnis dan perilaku pasar membuat pelaku industri harus melakukan transformasi agar tetap relevan dan mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, mengatakan kondisi fundamental perbankan nasional masih baik. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan yang kuat, likuiditas yang terjaga, serta rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang relatif rendah.
“Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah,” kata Agus dalam bincang-bincang Shaping the Next Era of Indonesia’s Capital Market pada Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Agus menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir industri perbankan menghadapi berbagai dinamika yang sulit diprediksi. Mulai dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik global, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional. Kondisi tersebut membuat perbankan tidak lagi dapat menjalankan strategi bisnis seperti sebelumnya.
Menurut Agus, industri perbankan juga menghadapi tekanan pada biaya dana atau cost of fund. Ia menyebut bunga deposito dalam lelang dana antarbank sempat menyentuh level 11,5%. Kondisi itu menjadi sinyal meningkatnya biaya penghimpunan dana bagi industri perbankan.
Menghadapi perubahan tersebut, Bank Jakarta menjalankan transformasi di berbagai aspek bisnis. Langkah itu mencakup penguatan model bisnis, digitalisasi layanan, manajemen risiko, hingga budaya kerja perusahaan. Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta memfokuskan pengembangan bisnis pada penguatan ekosistem pemerintah daerah. Agus menilai perputaran anggaran di lingkungan Pemprov DKI Jakarta memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Selain itu, Bank Jakarta mempercepat transformasi digital melalui pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Di sisi manajemen risiko, Agus menilai tantangan yang dihadapi industri perbankan kini semakin kompleks dan tidak lagi terbatas pada risiko kredit, termasuk ancaman keamanan siber.
“Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffry Hendrik menekankan pentingnya peningkatan kualitas investor untuk mendukung pendalaman pasar modal Indonesia. Menurut Jeffry, bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization(SRO), BEI terus mendorong transparansi pasar, penyediaan data investor yang lebih granular, pendalaman pasar, serta penguatan keterbukaan informasi kepada publik.
“Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi,” kata Jeffry.
Jeffry mengungkapkan jumlah investor domestik saat ini telah melampaui 28 juta. Namun, peningkatan jumlah investor perlu diikuti peningkatan kualitas agar menjadi fondasi yang kuat bagi pasar modal nasional. Ia menegaskan investor harus memiliki literasi dan pemahaman investasi yang memadai, memahami profil risiko, serta tidak hanya mengikuti tren pasar.
“Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan strategi Bank Jakarta dalam menghadapi dinamika ekonomi. Agus mengatakan perseroan tidak mengejar pertumbuhan semata, melainkan mengutamakan pertumbuhan yang sehat dan berkualitas.

