STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia menguat pada akhir perdagangan Senin (29/6/2026) waktu setempat atau Selasa (30/6/2026).
Mengutip CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus naik 1,9% menjadi 70,56 USD per barel. Sebelumnya, pada Jumat lalu, kontrak WTI sempat menetap di bawah 70 USD untuk pertama kalinya sejak 27 Februari 2026.
Adapun harga minyak mentah Brent naik 1,3% menjadi 72,91 USD per barel. Harga acuan internasional ini menguat di tengah upaya kedua negara meredakan konflik.
Pergerakan harga ini menyusul bentrokan antara AS dan Iran. Ketegangan tersebut sempat mengancam perundingan untuk mengakhiri konflik. Pejabat AS menyebut kedua pihak akan menghentikan permusuhan. Kapal komersial kini bisa melintasi Selat Hormuz secara bebas.
Seorang pejabat AS memberikan keterangan terkait kelanjutan dialog ini. “Pembicaraan teknis akan terus berlanjut di semua bidang MOU,” ujar Pejabat tersebut. MOU ini mengacu pada nota kesepahaman antara AS dan Iran pada 17 Juni 2026.
Ia juga menambahkan situasi terkini di lapangan. “Kedua belah pihak akan mundur untuk saat ini dan kapal-kapal dapat bergerak bebas,” kata Pejabat itu.
Sebelumnya, militer AS menyerang sejumlah target Iran. Langkah ini diambil setelah kapal tanker komersial di Selat Hormuz terkena proyektil pada Sabtu. Tetangga Iran, yaitu Kuwait dan Bahrain, juga melaporkan adanya serangan rudal serta drone.
Kekerasan yang kembali terjadi membuat Presiden Donald Trump memperingatkan Iran. Melalui Truth Social, Trump menuliskan pesan yang sangat tegas.
“Pesawat Amerika Serikat baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta situs radar pesisir, karena melanggar Perjanjian Gencatan Senjata, LAGI!,” tulis Trump.
Ia memperingatkan konsekuensi yang lebih besar jika kesepakatan terus dilanggar. “Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi bisa bersikap masuk akal, dan akan terpaksa menyelesaikan pekerjaan secara militer. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!,” tambah Trump.
Komando Pusat AS (CentCom) melaporkan jet tempur mereka menyerang 10 target militer Iran. Serangan ini sebagai balasan atas serangan drone terhadap tanker M/T Kiku yang berbendera Panama. Tanker tersebut membawa lebih dari 2 juta barel minyak mentah saat melintasi selat.
Ahli strategi dari ING, Warren Patterson dan Ewa Manthey, memberikan pandangan mereka. Mereka menilai pelaku pasar energi tampak terlalu optimistis soal pemulihan pasokan minyak di Teluk Persia.
Warren dan Ewa menyebut perkembangan akhir pekan menunjukkan risiko pasar minyak masih nyata. “Meski begitu, para peserta tampaknya mengabaikan perkembangan ini, dan malah fokus pada pemulihan aliran minyak global,” kata Warren dan Ewa.
Mereka menganggap sikap pasar saat ini cukup aneh. “Kepuasan ini aneh dan jelas menyisakan risiko kenaikan yang signifikan jika pemulihan pasokan terbukti lambat atau jika kita melihat eskalasi yang signifikan,” tambah Warren dan Ewa.
Menurut mereka, pasar minyak secara teknis berada di area jenuh jual. Namun, momentum penurunan harga dinilai masih mungkin berlanjut. Kondisi Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama karena posisinya yang sangat vital bagi pasar energi dunia

