STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (10/7/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (11/7/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq berhasil mencatat kenaikan mingguan berkat dorongan saham-saham teknologi raksasa.
Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York naik 149,60 poin atau 0,29% ke level 52.637,01. Indeks S&P 500 (SPX) juga bertambah 0,42% dan berakhir di posisi 7.575,39. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 0,29% menjadi 26.281,61.
Kenaikan S&P 500 didukung oleh performa apik dua raksasa teknologi. Saham Nvidia melonjak sekitar 4%. Saham Meta Platforms juga menjadi sorotan dengan kenaikan sekitar 6%. Performa Meta minggu ini merupakan yang terbaik sejak awal 2024 dengan total kenaikan hampir 15%.
Bank of America tetap merekomendasikan beli untuk saham Meta. Mereka melihat adanya potensi perbaikan struktur biaya kecerdasan buatan (AI) pada perusahaan tersebut. Hal ini berdasarkan memo internal yang menunjukkan Meta semakin efisien dalam mengelola biaya teknologi mereka.
Secara mingguan, indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan kenaikan lebih dari 1%. Namun, indeks Dow Jones justru melemah 0,5% sepanjang minggu ini.
Pasar juga menyambut kehadiran produsen chip asal Korea Selatan, SK Hynix, yang melakukan debut di pasar AS pada hari Jumat. Sahamnya dibuka pada harga 170 USD di Nasdaq dan berakhir naik sekitar 13%. Sebelumnya, harga penawaran ADR perusahaan ini dipatok pada 149 USD per lembar.
Tingginya permintaan memori untuk teknologi AI mendorong lonjakan saham sektor chip. Sepanjang 2026, saham Micron sudah meroket lebih dari 200%. Saham Lam Research, Marvell Technology, dan Intel juga tercatat sudah naik dua kali lipat sejak awal tahun.
Eric Parnell, Chief Market Strategist di Great Valley Advisor Group, memberikan komentarnya mengenai tren AI. Ia melihat adanya antusiasme yang sangat besar sejak musim panas 2023.
“Kita jelas berada dalam fase ledakan saat ini, namun saya memiliki kekhawatiran nyata tentang kemungkinan terjadinya penurunan di paruh kedua tahun ini,” ujar Parnell dalam wawancara dengan CNBC.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh harga minyak yang mendingin. Sentimen ini muncul setelah Presiden Donald Trump menyebut pihak Iran ingin menjalin kesepakatan. Qatar dan Pakistan tengah berupaya membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan.
Meskipun Wall Street menghijau, bursa saham di daratan China justru tertekan. Indeks CSI 300 ditutup turun 1,96% akibat pelemahan sektor teknologi dan industri. Di kawasan Asia lainnya, Kospi Korea Selatan melonjak 2,5% dan Nikkei 225 Jepang naik 1,2%. Sementara itu, indeks Stoxx 600 Eropa ditutup cenderung mendatar.

