STOCKWATCH.ID (JAKARTA)– Manajemen PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) menargetkan pendapatan usaha sebesar US$36,78 juta pada 2026, lebih rendah 9,92% dibanding realisasi pendapatan US$40,83 juta pada tahun 2025. Adapun laba bersih Perseroan diproyeksikan mencapai US$13,7 juta pada 2026, naik 7,87% dibanding US$12,7 juta pada tahun 2025.
Perseroan memiliki cara dan strategi tersendiri untuk mencapai targe pendapatan maupun laba di tahun 2026 ini. Di tengah situasi ekonomi dan geopolitik yang belum stabil, Perseroan menyadari untuk fokus pada kontrak jangka panjang. Itu berarti, Perseroan perlu mengamankan kontrak jangka Panjang atau lebih dari 1 tahun untuk menciptkan pendapatan yang lebih stabil.
Sementara hingga Juni 2026, LEAD telah mengantongi total kontrak sebesar US$33,24 juta. Dari jumlah tersebut, kontrak yang berhasil direalisasikan Perseroan sebesar US$12,98 juta. Tentu saja untuk mendongkrak kontrak hingga akhir 2026, Perseroan tetap melakukan aktivitas sektor Migas. Namun, terobosan itu tidak hanya terbatas pada kegiatan pengeboran baik untuk sumur-sumur eksplorasi) maupun sumur-sumur pengembangan (development wells). Beberapa Perusahaan Migas (KKKS) akan melakukan kegiatan pengeboran mulai Juli hingga akhir tahun.
Seperti tergambar dari materi paparan publik yang disampaikan ke BEI, Kamis 25 Juni 2026, Perseroan bertekad untuk meningkatkan pendapatan dan kontrak tersebut dengan melakukan sejumlah terobosan yang proaktif. Pasalnya, saat ini bberapa rig pengeboran sudah di-award ke beberapa Kontraktor Pengeboran baik itu drill ship maupun jack up rig. Kegiatan ini membutuhkan kapal-kapal sejenis AHTS, berukuran besar seperti yang dimiliki oleh Perusahaan. Perusahaan juga telah memperoleh kontrak untuk menunjang kegiatan pengeboran tersebut.
Di samping itu, Manajemen Perseroan juga harus melakukan ekspansi ke pasar internasional. Caranya adalah dengan memperluas diversifikasi penyewaan kapal ke luar negeri. Ini bertujuan  untuk  mendapatkan sewa atau kontrak pekerjaan di wilayah Asia Pasifik seperti Malaysia dan Vietnam. Negara-negara tersebut tetap menjadi referensi kuat proyek jangka panjang LEAD.
Bagaimanapun, kegiatan pengembangan (development) atau yang biasa disebut EPCI (Engineering, Procurement, Construction, and Installation) juga perlu dilakukan Perseroan. Ini sebagai antisipasi beberapa calon penyewakapak yang yang akan memulia kegiatannya pada Juli hingga akhir tahun. Untuk beberapa KKKS yang POD (Plan Of Development) nya telah disetujui di tahun 2024-2025 akan memulai kegiatan EPCI nya mulai pertengahan tahun hingga akhir tahun ini. Perusahaan telah diminta untuk kegiatan EPCI di KKKS BP Berau Ltd. di area Papua, dan juga EPCI project di KKKS wilayah Madura. Perusahaan juga sedang berpartisipasi untuk pengadaan (tender) di KKKS lain yang akan melakukan kegiatan EPCI di akhir tahun 2026-2027.
Di bagian lain, Manajemen Perseroan juga harus mulai melakukan divestasi atas sejumlah kapal tua. Perseroan dapat melanjutkan strategi penjualan kapal-kapal tua yang kurang produktif dan kompetitif dalam eskalasi harga sewa. Dana dari hasil penjualan kapal-kapal tua itu diapat digunakan Perseroan untuk melunasi pinjaman atau utang. Hal tersebut secara langsung akan menekan beban keuangan Perseroa, terutama beban bunga pinjaman Perusahaan tersebut.
Manajemen Perseroan juga dapat melakukan optimimalisasi biaya-biaya operasional. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga efisiensi biaya serta menyeleksi armada, Terobosan ini penting dilakukan Manajemen untuk tetap mempertahankan kapal yang memiliki potensi memberikan kontribusi margin kotor dan laba bersih yang optimal di masa mendatang nanti.
Sepanjang tahun 2025, Perseroan telah melaksanakan sejumlah aksi korporasi berupa penjualan aset  yakni 5 unit kapal. Penjualan limat unit kapal tersebut sebagai bagian dari strategi rasionalisasi armada dan penguatan struktur keuangan. Penjualan aset ini dilakukan secara terencana untuk memastikan bahwa komposisi armada Perseroan tetap optimal, efisien, dan selaras dengan kebutuhan pasar serta strategi jangka panjang Perseroan.
Penjualan kelima  unit kapal tersebut dilakukan kepada pihak non-afiliasi, yaitu: Logindo Destiny (US$6,15 juta), LSM Provider (US$965 ribu), Servewell Stable (Rp10 miliar), Logindo Stature (US$5,85 juta), dan Logindo Progress (US$2,5 juta). Dana hasil penjualan kapal digunakan untuk melunasi sebagian kewajiban pinjaman. Sehingga secara langsung memperbaiki rasio keuangan dan struktur permodalan Perseroan di tahun 2025.
Dari sisi keuangan, LEAD berhasil membukukan laba bersih sebesar US$12,777 juta pada 2025, melonjak 261,12% jika dibadingkan US$3,538 juta pada tahun 2024. Sayang, lonjakan laba tersebut tidak diikuti dengan pendapatan yang justru turun seebsar 12,54% menjadi US$40,83 juta pada 2025 dibanding pencapaian di periode sama tahun 2024 sebesar US$46,686 juta.
PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) atau Logindo, didirikan pada tahun 1995. Mulai beroperasi pada tahun 1997 dalam menyediakan layanan maritim untuk mendukung industri minyak dan gas. Pada tahun 2011, perusahaan mulai menjalin kerja sama dengan Pacific Radiance Pte Ltd sebagai mitra strategisnya. Perusahaan menyediakan beragam jenis kapal pendukung lepas pantai, seperti kapal tunda, tongkang, kapal pemasok, kapal kru, tank kapal pendarat, dan tongkang kerja akomodasi, ke perusahaan minyak dan gas besar, seperti Pertamina, Total, Nook, Chevron, M3nergy, Petronas, dan banyak lagi.

