STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street terbang tinggi pada akhir perdagangan Jumat sore (17/4/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (18/4/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq sukses mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Investor merespons positif pengumuman pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran pasca gencatan senjata Israel dan Lebanon.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 868,71 poin atau 1,79% ke level 49.447,43. Indeks S&P 500 (SPX) naik 1,2% dan berakhir di posisi 7.126,06 untuk pertama kalinya. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) menguat 1,52% menjadi 24.468,48.
Kenaikan Nasdaq menjadi sorotan karena mencatatkan kemenangan beruntun selama 13 hari. Ini merupakan rekor positif terlama bagi Nasdaq sejak tahun 1992. Indeks Russell 2000 yang menaungi saham-saham berkapitalisasi kecil juga mencapai rekor baru dengan kenaikan lebih dari 2%.
Sentimen pasar melonjak setelah Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memberikan pernyataan resmi. Melalui unggahan di media sosial X, ia menyatakan jalur kapal komersial melalui Selat Hormuz telah dibuka sepenuhnya. Keputusan ini sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon yang diumumkan sebelumnya.
Presiden Donald Trump mengungkapkan para pemimpin Israel dan Lebanon sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 hari. Kesepakatan tersebut mulai berlaku sejak Kamis sore pukul 17.00 waktu setempat. Trump juga menyebut Iran telah setuju tidak akan pernah menutup jalur air tersebut lagi.
Meredanya kekhawatiran gangguan pasokan membuat harga minyak dunia anjlok. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot hampir 12% ke level USD 83,85 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent turun 9% menjadi USD 90,38 per barel.
Meski demikian, Trump menegaskan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap berlaku penuh. Kebijakan ini akan dipertahankan sampai kesepakatan damai dengan Teheran tercapai. Ia memprediksi proses ini akan berjalan sangat cepat karena sebagian besar poin sudah dinegosiasikan.
Sektor yang rentan terhadap penutupan Selat Hormuz langsung berbalik menguat. Saham maskapai penerbangan dan operator kapal pesiar rebound cukup signifikan. Saham Boeing tercatat naik 2%, sedangkan Royal Caribbean melesat hingga 7%. Saham raksasa lain seperti Amazon dan Airbnb juga ikut menguat.
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist di Ameriprise Financial, memberikan analisisnya terkait kondisi pasar saat ini. Ia menilai pelaku pasar mulai mengesampingkan kekhawatiran konflik tersebut.
“Saya rasa pasar telah menarik kembali skenario terburuk, dan melihat jalan bagi AS dan Iran untuk mengakhiri konflik serta Selat Hormuz tetap terbuka. Selama itu tetap menjadi jalan yang paling mungkin terjadi, maka pasar akan mengabaikannya,” ujar Saglimbene kepada CNBC.
Saglimbene juga memberikan catatan untuk pergerakan pasar ke depan. Menurutnya, tantangan berikutnya akan lebih bergantung pada performa fundamental perusahaan.
“Bagian mudah dari reli ini mungkin sudah berlalu. Ke depan, khususnya untuk teknologi, khususnya untuk [‘Magnificent Seven’], kita perlu melihat tidak hanya pendapatan yang memenuhi estimasi analis, tetapi kita perlu melihat proyeksi yang kuat,” tambah Saglimbene.
Secara mingguan, ketiga indeks utama Wall Street mencatatkan rapor hijau yang solid. Indeks Dow Jones tumbuh 3,2% sepanjang minggu ini. Indeks S&P 500 melaju 4,5% dan Nasdaq memimpin penguatan mingguan dengan kenaikan sebesar 6,8%.
