STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak tajam mendekati level 100 USD per barel pada akhir perdagangan Kamis (16/4/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (17/4/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh terhambatnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital tersebut masih mengalami blokade tanpa kepastian waktu pembukaan kembali secara penuh.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni melonjak hampir 5%. Harga minyak acuan internasional ini ditutup pada level 99,39 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik hampir 4%. Minyak WTI berakhir pada posisi 94,69 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Situasi di Selat Hormuz semakin memanas seiring blokade pesisir Iran oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (AS). Teheran mengancam akan membalas serangan terhadap kapal-kapal di Teluk Persia. Saat ini, hanya beberapa kapal tanker yang melintas setiap harinya melalui jalur laut tersebut.
Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan terbaru mengenai rencana negosiasi dengan Iran. Ia menyebut kedua negara kemungkinan akan bertemu pada akhir pekan ini untuk putaran perundingan kedua. Namun, hingga saat ini belum ada tanggal resmi yang ditetapkan untuk pembicaraan tersebut.
Trump memberikan komentarnya terkait rencana pertemuan lanjutan dengan pihak Iran kepada para wartawan. Ia melihat adanya peluang untuk kembali duduk bersama guna membahas resolusi konflik.
“AS dan Iran akan mungkin bertemu akhir pekan ini untuk putaran negosiasi berikutnya,” ujar Trump.
Sebelumnya, Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon. Konflik antara Israel dan Hizbullah sempat menjadi penghambat utama dalam pembicaraan AS-Iran di Pakistan pekan lalu. Namun, investor masih bersikap waspada terhadap stabilitas kawasan tersebut.
Para pemimpin negara di Eropa dan Teluk Arab meragukan penyelesaian konflik dalam waktu singkat. Negosiasi kesepakatan komprehensif antara AS dan Iran diperkirakan membutuhkan waktu hingga enam bulan. Hal ini menambah ketidakpastian di pasar energi global.
Tekanan pada pasokan kian terasa karena masa gencatan senjata selama dua minggu antara AS dan Iran akan berakhir. Gencatan senjata tersebut dijadwalkan usai pada Selasa, 21 April mendatang.
Trump menyetujui gencatan senjata tersebut dengan imbalan pembukaan akses Selat Hormuz oleh Iran. Meski demikian, pihak Teheran terus berupaya mempertahankan kendali penuh atas pelayaran di jalur laut tersebut. Kondisi ini membuat pasar energi terus dibayangi kekhawatiran gangguan distribusi minyak mentah dunia.
