back to top

Bursa Saham Wall Street Berakhir Beragam, S&P 500 Tembus Rekor Baru  

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Bursa Saham Wall Street berakhir beragam, pada penutupan perdagangan Jumat (9/2/2024) waktu setempat atau Sabtu pagi (10/2/2024). Indeks S&P 500 ditutup di atas level 5.000 untuk pertama kalinya. Sementara itu, indeks Nasdaq sempat ditransaksikan di atas 16.000, seiring menguatnya saham-saham megacaps dan chip, termasuk Nvidia.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York, AS ditutup turun 54,64 poin atau 0,14% menjadi 38.671,69. Sebaliknya, indeks S&P 500 (SPX) menguat sebesar 28,70 poin atau 0,57% menjadi mencapai 5.026,61. Setali tiga uang, indeks komposit Nasdaq (IXIC), juga mendaki sebesar 196,95 poin atau 1,25% ke level 15.990,66.

Harga saham Nvidia melonjak sebesar 3,6% dan mencapai rekor tertinggi. Nvidia dikabarkan sedang mengembangkan unit bisnis baru yang fokus pada perancangan chip khusus untuk perusahaan komputasi awan dan lainnya, termasuk prosesor kecerdasan buatan (AI) yang canggih.

Melejitnya harga saham-saham teknologi besar seperti Microsoft, Amazon.com, dan Alphabet juga berkontribusi pada kenaikan indeks.

Sepanjang pekan lalu, ketiga indeks utama tersebut mencatat kenaikan mingguan kelima berturut-turut.  DJIA naik 0,04%, S&P bertambah 1,4% dan  Nasdaq menguat 2,3%.

Data terbaru dari London Stock Exchange Group (LSEG) mengindikasikan adanya lonjakan optimisme di Wall Street. Perkiraan pertumbuhan pendapatan kuartal keempat meningkat drastis, melampaui ekspektasi sebelumnya.

Data dari LSEG menunjukkan bahwa perkiraan pertumbuhan pendapatan kuartal keempat  meningkat menjadi 9,0% dari ekspektasi pertumbuhan 4,7% pada awal Januari 2024. Sebanyak 81% perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 melampaui perkiraan analis. Ini merupakan peningkatan yang cukup mengesankan dibandingkan dengan rata-rata sebelumnya sebesar 76%. Kinerja yang kuat dari sebagian besar perusahaan ini memberikan sinyal positif bagi ekonomi Amerika Serikat secara keseluruhan.

Pasar saat ini sedang menunggu perilisan data harga konsumen untuk bulan Januari. Data ini dianggap penting karena dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) terkait pemangkasan biaya pinjaman. Data ekonomi yang kuat dan komentar hawkish dari para pengambil kebijakan The Fed telah memupus harapan akan penurunan suku bunga pada bulan Maret.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Mantap! Investasi dan Operasional AMMAN Suntik Ekonomi RI Rp173 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas...

OJK Cabut Izin Usaha BPR Koperindo Jaya, Ini Alasannya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai dengan...

Panen Raya PTBA di Muara Enim, Hasil Padi Naik hingga 1 Ton Berkat Kalium Humat

STOCKWATCH.ID (MUARA ENIM) – PT Bukit Asam Tbk (PTBA)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru