Wall Street Memerah, Saham Sektor Perangkat Lunak Tumbang

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis sore (23/4/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (24/4/2026) WIB. Penurunan ini dipicu oleh rontoknya saham sektor perangkat lunak dan kenaikan harga minyak dunia. Investor juga merasa tidak pasti terhadap perkembangan konflik dengan Iran.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 179,71 poin atau 0,36% ke level 49.310,32. Indeks S&P 500 (SPX) terkoreksi 0,41% dan berakhir di posisi 7.108,40. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, turun 0,89% menjadi 24.438,50.

S&P 500 dan Nasdaq sebenarnya sempat menyentuh rekor tertinggi intraday baru pada sesi tersebut. Namun, kedua indeks tersebut gagal mempertahankan penguatan hingga penutupan. Aksi jual pada saham teknologi menjadi pemberat utama.

Saham IBM dan ServiceNow masing-masing anjlok lebih dari 8% dan hampir 18%. Kondisi ini terjadi setelah kedua perusahaan merilis laporan keuangan kuartalan terbaru. Meskipun kinerja IBM melampaui ekspektasi, perusahaan tidak menaikkan proyeksi setahun penuh. Hal ini mengecewakan para pelaku pasar.

Sentimen negatif ini merembet ke saham perangkat lunak lainnya. Saham Microsoft tergelincir sekitar 4%. Palantir Technologies jatuh lebih dari 7%, sementara Oracle turun sekitar 6%. Dana indeks iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) juga ikut merosot sekitar 6%.

Chris Kampitsis, Managing Partner The SKG Team di Barnum Financial Group, memberikan pandangannya. Ia melihat pasar sedang dalam fase konsolidasi.

“Saham-saham sedang mencoba mencari pijakan setelah rebound luar biasa dari posisi terendah bulan Maret,” ujar Kampitsis dalam wawancara dengan CNBC. “Kami memperkirakan saham akan tetap berada dalam rentang tertentu dalam jangka pendek seiring pasar menunggu katalis berikutnya.”

Kampitsis menilai pasar mulai kurang sensitif terhadap berita utama dari Iran. Meski begitu, isu perang tetap membebani pergerakan saham. Konflik tersebut kini berkembang menjadi kebuntuan angkatan laut antara AS dan Iran di tengah gencatan senjata yang rapuh. Kedua negara memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump pada hari Kamis memerintahkan Angkatan Laut untuk menindak tegas. Ia menginstruksikan untuk menembak dan membunuh kapal apa pun yang meletakkan ranjau di sepanjang selat tersebut. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menegaskan sikap keras pemerintahannya.

“Tidak boleh ada keragu-raguan,” tulis Trump dalam unggahannya.

Ketegangan ini mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi. Harga minyak mentah Brent menetap di atas USD 105 per barel. Kenaikan harga terjadi setelah adanya laporan pengunduran diri ketua parlemen Iran dari tim perunding. Hal ini memicu kekhawatiran Korps Garda Revolusi akan mengambil kendali lebih kuat.

Di sisi lain, pertahanan udara dilaporkan terdengar beroperasi di Teheran. Kantor berita Mehr Iran menyebut militer sedang menangani target musuh. Trump sebelumnya menyatakan perpanjangan gencatan senjata diperlukan karena pemerintahan Teheran sedang mengalami keretakan serius.

- Advertisement -

Artikel Terkait

L’Oreal dan Nokia Terbang, Bursa Saham Eropa Parkir di Zona Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat tipis...

AS Cegat 3 Tanker Iran, Mayoritas Bursa Saham Asia Rontok

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik...

S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Melaju Usai Gencatan Senjata Iran Diperpanjang

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru