STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Kamis (23/4/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (24/4/2026) WIB. Logam mulia ini tertekan oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya harga minyak. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.
Mengutip CNBC International, harga emas spot turun 0,6% ke posisi USD 4.706,49 per ons troi. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman Juni juga melemah 0,6% menjadi USD 4.727.
Penguatan indeks dolar AS membuat emas yang dinilai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam sepekan terakhir. Situasi ini meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, memberikan pandangannya terkait pergerakan harga emas. Ia menyoroti pengaruh pasar energi terhadap pergerakan logam mulia ini.
“Emas terus mengambil petunjuk dari pasar minyak, dengan kenaikan biaya energi menjaga risiko kekuatan dolar jangka pendek dan peningkatan inflasi tetap menjadi fokus,” ujar Hansen.
Di sisi lain, tensi geopolitik di Timur Tengah masih tinggi. Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz untuk memperketat kendali di jalur strategis tersebut. Kejadian ini berlangsung setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan serangan tanpa batas waktu. Hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda pembicaraan damai akan dimulai kembali.
Pejabat Iran belum menyatakan persetujuan terkait perpanjangan gencatan senjata. Mereka justru menuduh Washington melanggar kesepakatan. AS dinilai tetap mempertahankan blokade pada jalur perdagangan laut Iran.
Harga minyak mentah Brent naik di atas USD 100 per barel akibat mandeknya pembicaraan damai ini. Kedua negara juga tetap mempertahankan pembatasan arus perdagangan di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak mentah dapat menambah tekanan inflasi baru. Kondisi ini memperbesar peluang suku bunga tetap berada di level tinggi untuk waktu lama. Emas sebenarnya sering berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang tinggi mengurangi daya tariknya.
Sentimen ini didukung oleh hasil survei terbaru. Jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom menunjukkan proyeksi kebijakan bank sentral AS. The Fed kemungkinan akan menunggu setidaknya enam bulan sebelum mulai memangkas suku bunga tahun ini. Hal ini terjadi karena guncangan energi akibat perang kembali menyulut inflasi.
Meskipun demikian, Ole Hansen melihat penurunan saat ini bukan sebuah tren permanen. Ia memproyeksikan potensi kenaikan harga emas masih terbuka di masa depan.
“Konsolidasi saat ini tampak lebih sebagai jeda yang didorong oleh ketidakpastian suku bunga daripada pergeseran struktural, dan kami mempertahankan pandangan emas kemungkinan akan mencapai rekor tertinggi baru di akhir tahun ini atau pada awal 2027,” tambah Hansen.
