STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 17 Desember 2025. Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan menyambut antusiasme investor yang luar biasa terhadap penawaran umum perdana saham atau Initial Publice Offering (IPO) perseroan. Ia menegaskan langkah selanjutnya adalah memperdalam penetrasi ke dalam ekosistem digital yang sudah ada.
Tigor mengaku tidak menyangka besarnya minat publik terhadap saham bank digital ini. IPO Superbank tercatat mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga 318,69 kali. Jumlah pesanan yang masuk menembus angka lebih dari 1 juta order.
“Tentu saja kami sangat merasa bersyukur, kami juga tidak menduga segini besar antusiasme publik terhadap listing-nya dari Superbank. Kita juga tahu ini sudah mau akhir tahun ya, saya pikir orang sudah mau liburan atau sudah mau santai atau apa, ternyata antusiasmenya itu sangat besar,” ujar Tigor di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Ia menilai momen pencatatan saham ini merupakan tonggak sejarah penting bagi perusahaan. Hal ini menjadi bukti kepercayaan dari berbagai pihak, mulai dari nasabah, karyawan, hingga pemegang saham.
“IPO ini adalah merupakan salah satu tonggak sejarah untuk Superbank. Kami merasa bahwa journey of trust, journey dari kepercayaan itu sudah berjalan selama ini,” tambahnya.
Terkait strategi pasca IPO, Tigor menjelaskan fokus utama perseroan. Superbank akan melanjutkan penetrasi ke dalam ekosistem Grab, Ovo, dan Emtek Group. Masih banyak potensi pasar yang belum tergarap maksimal di dalam ekosistem tersebut.
“Kita sudah memulai penetrasi tersebut, akan tetapi masih banyak dan besar pool yang belum kami sentuh di Grab dan Ovo ekosistem, juga di Emtek ekosistem. Jadi ke depannya, kami akan terus melaksanakan eksekusi terhadap ekosistem kami, didukung oleh Grab dan Ovo terutama, dan kami merasa tahun 2026 kami akan mengalami pertumbuhan yang cukup baik,” jelas Tigor.
Direktur Keuangan (CFO) Superbank, Melisa Hendrawati memaparkan rencana penggunaan dana hasil IPO. Sebagian besar dana akan dialokasikan untuk modal kerja penyaluran kredit. Target utamanya adalah segmen ritel dan UMKM yang belum terlayani perbankan secara maksimal.
“Jadi untuk penggunaan dana seperti yang kami sudah utarakan juga di prospektus dan kesempatan-kesempatan lain, 70% dari dana IPO itu akan digunakan sebagai modal kerja, untuk memperkuat penyaluran kredit yang kepada segmen yang seperti Pak Tigor bilang tadi underbanked, baik untuk sektor ritel maupun UMKM,” kata Melisa.
Sisa dana hasil IPO akan digunakan untuk pengembangan teknologi. Hal ini sejalan dengan model bisnis Superbank yang bertumpu pada layanan digital.
“Dan sisanya, kami juga sebagai bank yang sangat mengandalkan digital, sangat mengandalkan AI, 30% dari dana akan kami alokasikan untuk belanja modal. Termasuk pengembangan produk, pendanaan, pembiayaan, juga payment system,” lanjut Melisa.
Pada debut perdananya, pergerakan saham SUPA terbilang impresif. Saat pembukaan perdagangan, harga saham langsung melejit hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA). Harganya naik Rp 155 atau 24,41% menjadi Rp 790 per saham dari harga penawaran Rp 635.
Volume perdagangan saham SUPA di Pasar Reguler mencapai 2,16 juta unit. Nilai transaksinya tercatat sebesar Rp 1,72 miliar dengan frekuensi sebanyak 1.677 kali. Sebanyak 33,558 miliar saham SUPA resmi dicatatkan di Papan Pengembangan BEI.
Kinerja operasional Superbank sebelum IPO juga menunjukkan tren positif. Dalam 18 bulan sejak peluncuran, bank ini telah menggaet lebih dari 5 juta nasabah. Aktivitas transaksi harian juga tergolong tinggi.
“Dan transaksi per hari, dari seluruh transaksi di Superbank, sudah lebih dari 1 juta transaksi per hari,” pungkas Tigor.
