STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Selasa (24/2/2026). Investor menimbang ancaman tarif terbaru dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kekhawatiran efek disrupsi kecerdasan buatan (AI) pada perusahaan perangkat lunak ikut membayangi pasar.
Mengutip CNBC International, Trump kembali melontarkan peringatan keras lewat platform Truth Social pada Senin. Peringatan ini ditujukan bagi negara mana pun yang ingin mempermainkan keputusan Mahkamah Agung AS.
“Akan dihadapkan dengan tarif yang jauh lebih tinggi,” tulis Trump.
Komentar ini muncul usai Mahkamah Agung AS membatalkan tarif pada Jumat pekan lalu. Tarif tersebut awalnya disahkan di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional. Trump merespons penolakan ini dengan menyiapkan tarif global 15% berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974.
Lorraine Tan, Director of Equity Research di Morningstar, memberikan analisanya. Ia memprediksi reaksi pasar akan cenderung tenang merespons langkah tersebut.
“Kami memperkirakan perubahan terbatas pada perjanjian yang sudah ada dan juga karena kami memperkirakan Presiden Trump akan menggunakan sarana ini untuk meningkatkan posisi tawarnya dengan negara-negara di mana perjanjian sedang dinegosiasikan,” urai Tan.
Di daratan Asia, investor menyoroti keputusan suku bunga acuan pinjaman (LPR) dari bank sentral China. Pada hari Selasa, bank sentral mempertahankan suku bunga pinjaman satu tahun di level 3%. Suku bunga LPR lima tahun juga tetap berada di angka 3,5%.
Suku bunga satu tahun berfungsi sebagai patokan pinjaman komersial baru. Sementara LPR lima tahun menjadi panduan utama untuk pinjaman properti.
Pasar saham China daratan berhasil naik 1,06% saat buka kembali usai libur panjang Tahun Baru Imlek. Indeks Shanghai tercatat melaju 0,87% ke level 4.117,40.
Kondisi berbeda terjadi di Hong Kong. Indeks Hang Seng turun 2% ke posisi 26.590,32 karena terseret saham sektor kesehatan. Pembuat boneka Labubu, Pop Mart, jadi pecundang terbesar dengan anjlok 5% usai merilis seri mainan barunya pada hari Senin.
Bursa Korea Selatan justru tampil memukau. Indeks Kospi melesat 2,11% dan berakhir di posisi 5.969,64. Indeks ini sukses mencetak rekor tertinggi baru selama tiga sesi berturut-turut berkat reli saham cip. Indeks Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil juga naik 1,13% menjadi 1.165.
Lonjakan saham cip turut menguntungkan pasar Taiwan. Indeks Taiwan Weighted memimpin kenaikan di Asia dengan lompatan 2,75% ke rekor 34.700,82. Saham raksasa cip Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) terbang lebih dari 3,42%.
Bursa Jepang juga mencatatkan hasil positif. Indeks Nikkei 225 naik 0,87% menuju level 57.321,09. Indeks Topix menguat 0,2% dan berakhir di posisi 3.815,98.
Di sisi lain, pasar Australia gagal mempertahankan keuntungan awalnya. Indeks S&P/ASX 200 turun tipis ke level 9.022,30. Sementara itu, indeks NIFTY 50 di India juga melemah 1,12% ke posisi 25.424,65.
