back to top

Konflik Iran-AS Memanas, Harga Minyak Diramal Tembus USD100! Deretan Saham Migas BEI Ketiban Berkah?

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu kekhawatiran krisis pasokan energi global. Insiden ini menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran langsung merespons serangan tersebut dengan menutup Selat Hormuz secara resmi. Analis memprediksi penutupan jalur laut paling vital di dunia ini bisa mengerek harga minyak mentah hingga di atas USD100 per barel.

Kondisi geopolitik ini membawa sentimen tersendiri bagi sejumlah emiten minyak dan gas (migas) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten sektor eksplorasi dan produksi hulu berpotensi merasakan dampak paling positif. Harga jual rata-rata mereka berkorelasi langsung dengan pergerakan indeks harga global.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi salah satu pemain utama bidikan investor. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga berpeluang mencetak kenaikan margin profitabilitas. Perusahaan ini memang fokus pada produksi gas bumi dan minyak mentah.

Sektor jasa penunjang migas ikut kecipratan berkah serupa. Lonjakan harga minyak kerap memicu peningkatan aktivitas pengeboran dan pemeliharaan sumur.

Anak usaha Pertamina, PT Elnusa Tbk (ELSA), diprediksi akan mempertebal kontrak baru. Jasa seismik dan pengelolaan sumur menjadi andalan mereka.

Penyedia kapal pendukung lepas pantai seperti PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) turut diuntungkan. Permintaan kapal operasional biasanya naik drastis saat perusahaan migas agresif melakukan eksplorasi.

Sektor distribusi dan infrastruktur tak ketinggalan mendapat peluang emas. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) diuntungkan melalui bisnis transmisi gas dan kinerja anak usahanya di bidang hulu, Saka Energi.

Sementara PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) berpotensi mendongkrak margin keuntungan. Peluang ini datang dari pengelolaan nilai persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi.

Menanggapi eskalasi geopolitik ini, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), Reza Priyambada, membagikan pandangannya kepada stockwatch.id pada Minggu (1/3/2026). Ia menilai lonjakan harga komoditas energi pasti memengaruhi pergerakan saham.

“Biasanya kenaikan harga komoditas direspon oleh pergerakan saham-saham yang berkaitan dengan komoditas tersebut,” kata Reza.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), Reza Priyambada,

Pelaku pasar diprediksi akan ramai-ramai memburu saham berorientasi minyak. Efek domino ini juga bisa merembet cepat ke komoditas energi lainnya.

“Bisa saja kenaikan harga komoditas oil akan memicu kenaikan komoditas energi lainnya semisal gas, coal, dan bahkan gold karena dinilai meningkatnya ketidakpastian global,” tuturnya.

Reza menyarankan investor mulai mengamati pergerakan saham-saham yang berkorelasi. Beberapa di antaranya adalah MEDC, BIPI, AKRA, MDKA, BRMS, ANTM, dan PTBA.

Meski begitu, kenaikan harga minyak global tidak selalu langsung menggemukkan kas perusahaan. Semua tergantung pada sistem pencatatan kontrak emiten ke pelanggan mereka.

Jika emiten sudah mematok harga USD60 per barel untuk enam bulan, pendapatan mereka tidak berubah meski harga minyak naik menjadi USD70 atau USD80 per barel. Pembukuan tetap di angka USD60.

“Kecuali jika si emiten tersebut pakai harga spot dimana setiap saat bisa saja berubah harga kontraknya,” ucap Reza.

Reza juga menyoroti potensi kenaikan biaya bahan bakar bagi emiten jasa pelayaran. Risiko lonjakan biaya operasional ini bisa saja ditekan lewat strategi negosiasi dari perusahaan terkait.

“Bisa saja dikompensasi dengan kenaikan harga kontrak logistiknya karena meningkatnya risiko di perairan,” ujarnya.

Investor disarankan tetap cermat dalam mengambil keputusan di tengah panasnya sentimen Timur Tengah. Perhatian pada likuiditas perdagangan saham sangat penting sebelum masuk ke pasar.

“Rekomendasi bisa cermati saham-saham yang berkorelasi dengan komoditas tersebut namun, juga perlu diperhatikan volume beli dan jualnya,” jelas Reza.

Ia menambahkan efek sentimen ini terhadap saham-saham incaran akan terlihat makin jelas pada perdagangan pekan depan. Bagi investor yang ingin mengambil posisi amam, Reza membagikan sejumlah titik support dan resistance kunci.

Untuk emiten tambang dan emas, saham ANTM memiliki support Rp4.220-4.290 dan resistance Rp4.380-4.410. MDKA berada di support Rp3.690-3.700 dengan resistance 3.790-3.810. Saham AMMN di level support Rp 7.550-7.600 dan resistance Rp 7.750-7.900. EMAS mencatat support Rp 8.225-8.250 serta resistance 8.450-8.550.

Pada sektor batu bara dan mineral, BUMI berada pada support Rp 248-250 dan resistance Rp 265-275. Saham BRMS memiliki support Rp 940-960 dan resistance Rp 1.000-1.010.

Sementara di sektor migas dan turunannya, MEDC menempati support Rp 1.665-1.690 dengan resistance Rp 1.800-1.850. PGAS ada di support Rp 2.350-2.370 dan resistance Rp 2.420-2.450. RAJA berada pada support Rp 4.450-4.480 serta resistance Rp 4.550-4.570. Terakhir, RATU di level support Rp 7.125-7.150 dengan resistance Rp 7.350-7.400.

Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Dinilai Tidak Wajar oleh Penilai, Multitrend (BABY) Tetap Ngotot Akuisisi EGI. Apa Alasannya?

STOCKWATCH.ID  (JAKARTA) - PT Multitrend Indo Tbk (BABY) memberikan...

Siap Jual Seluruh Saham Master Print ke Perusahaan Singapura, Mitra Pack Gelar RUPSLB Minggu Depan

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mitra Pack Tbk (PTMP) mengumumkan...

BEI Tetapkan Daftar Efek Liquidity Provider Terbaru, Berlaku Mulai 2 Maret 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru