STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – IHSG ditutup melemah sebesar 51,51 poin atau turun 0,69% ke level 7.389 pada perdagangan saham Rabu (11/3/2026. Sektor healthcare mencatat kenaikan 0,29%, paling kuat naiknya, sementara di posisi terendah berada di sektor basic materials dengan penurunan 2,03%.
Menurut Maximilianus Nico Demus, CSA®, CRP®, CIB®, CFIA®, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, IHSG berpotensi melemah terbatas pada perdagangan saham hari Kamis (12/3/2026) ini.
“Pilarmas Investindo Sekuritas melihat IHSG berpotensi melemah terbatas. Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.300 – 7.600,” katanyadalam laporan riset, Kamis (12/3/2026).
Sejumlah sentimen global turut memengaruhi psikologis investor, di antaranya tekanan inflasi. Inflasi selalu menjadi perhatian utama para pelaku pasar dan investor terutama di tengah kenaikan harga minyak dan gas. Hal ini selaku mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok sehingga mendorong inflasi bergerak naik.
“Dengan keadaan perang di bulan Maret ini, kami tidak yakin data inflasi di bulan depan akan lebih stabil dibandingkan dengan bulan ini. Waspadai dan cermati, karena tekanan terhadap inflasi akan berlanjut,” katanya.
Beruntung, pelepasan minyak cadangan telah disetujui oleh International Energy Agency, sehingga hal ini akan memberikan kelegaan bagi pelaku pasar dan investor terkait dengan inflasi dari sisi energi.
Amerika akan berusaha menyelesaikan pekerjaan di Iran secepat mungkin, agar harga minyak dapat lebih stabil. Namun pelepasan minyak cadangan, masih belum membuat harga minyak stabil atau mengalami penurunan, karena perang masih berlangsung.
Yang menarik, Trump mengatakan bahwa perang akan segera berakhir, karena tidak ada lagi yang dijadikan target oleh Amerika. Sedangkan dari Iran melalui perantara mereka mengatakan, bahwa untuk mencapai gencatan senjata, Amerika harus menjamin bahwa baik Amerika dan Israel tidak akan menyerang Iran di masa yang akan datang. Apakah ini sebuah tanda akan berakhir?
Sementara dari dalam negeri, realisasi APBN hingga Februari 2026 mencatat defisit Rp135,7 triliun atau 0,53% dari PDB. Namun pemerintah menegaskan angka tersebut masih sesuai rencana. Pendapatan negara mencapai Rp398 triliun (11,4% dari target) dan tumbuh 12,8% YoY, terutama ditopang penerimaan perpajakan sebesar Rp290 triliun yang meningkat 20,5%, dengan penerimaan pajak Rp245,1 triliun (+30,4%).
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai Rp44,9 triliun turun 14,7%, meski terdapat indikasi pemulihan. Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp493,8 triliun (12,8% dari pagu) dan melonjak 41,9% YoY untuk mendukung program prioritas pemerintah serta menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi.
“Kami menilai, defisit di awal tahun mencerminkan strategi belanja pemerintah untuk mendorong momentum pertumbuhan sejak awal 2026. Kinerja penerimaan pajak yang kuat menjadi penopang utama ruang fiskal, meskipun pelemahan penerimaan kepabeanan dan cukai menunjukkan sensitivitas terhadap siklus komoditas dan aktivitas industri,” katanya.
Dari sisi korporasi, rilis kinerja keuangan mewarnai pergerakan pasar. PT Petrosea Tbk (PTRO) misalnya, mencatatkan kenaikan pendapatan dan laba bersih sepanjang tahun 2025. Laba bersih menjulang hingga 197% menjadi Rp481,66 miliar pada 2025. Ini dikukung oleh kenaikan pendapatan sekitar 28,32% menjadi Rp14,32 triliun tahun lalu.
Kenaikan ini terutama ditopang oleh segmen penambangan sebesar US$389,25 juta dan konstruksi serta rekayasa sebesar US$379,74 juta, disertai kontribusi dari EPCI minyak dan gas, jasa, serta penjualan batu bara. Dari sisi pelanggan, kontribusi terbesar berasal dari BP Berau Ltd, PT Kideco Jaya Agung, dan PT Freeport Indonesia.
Kemudian, PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) mencatat pendapatan Rp343,32 miliar hingga periode 31 Desember 2025, naik dari Rp238,91 miliar di periode yang sama tahun 2024. Laba bersih ARKO meningkat sekitar 53% menjadi Rp63,9 miliar pada 2025.
Sepanjang 2025, tiga proyek operasional ARKO juga berhasil menekan emisi sekitar 37.290 ton CO2e, dengan potensi reduksi hingga 181.503 ton CO2e per tahun setelah seluruh proyek beroperasi.
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
