STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot ke level terendah dalam enam bulan terakhir pada perdagangan Kamis (11/6/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (12/6/2026) WIB. Penurunan tajam ini terjadi karena investor mulai meninggalkan logam mulia. Kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menjadi pemicu utamanya.
Mengutip CNBC, harga emas berjangka untuk kontrak Agustus sempat menyentuh posisi 4.046,20 USD per ons troi. Level ini merupakan yang terendah sejak November tahun lalu. Sepanjang pekan ini saja, harga emas sudah anjlok sebesar 6,3%.
Adapun pada akhir perdagangan, harga emas ditutup turun 0,5% menjadi 4.111,10 USD per ons troi. Pelemahan ini menempatkan emas pada jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut. Kondisi tersebut menandai pekan terburuk bagi emas sejak pertengahan Maret lalu.
Pasar bereaksi terhadap inflasi konsumen AS bulan Mei yang naik sangat cepat. Lonjakan harga energi akibat perang Iran yang sudah berjalan empat bulan menjadi penyebab utama inflasi. Para investor kini bertaruh The Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun nanti.
Pekan depan, The Fed dijadwalkan mengadakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh sebagai Ketua Fed yang baru. Suku bunga acuan diperkirakan bertahan di level 3,50% hingga 3,75%. Namun, data CME Group’s FedWatch menunjukkan ada peluang 67% kenaikan suku bunga terjadi pada Desember mendatang.
Citigroup memberikan peringatan terkait kondisi teknis emas yang mulai melemah. Harga emas telah jatuh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak September 2023. Meski demikian, para analis bank tersebut masih melihat potensi kenaikan dalam jangka panjang.
“Pandangan konsensus tetap konstruktif dalam jangka menengah hingga panjang karena permintaan non-siklus yang kuat dari meningkatnya fragmentasi geopolitik global,” tulis para analis Citigroup.
Pihak JPMorgan juga mencatat adanya aksi jual besar-besaran oleh investor ritel maupun institusi. Investor mulai menarik diri dari strategi pelindungan nilai atau debasement trade. Fenomena ini terlihat dari arus keluar dana pada produk ETF emas.
“Kerangka sinyal momentum kami juga menunjukkan mundurnya perdagangan penurunan nilai aset (debasement trade) secara terus-menerus,” catat pihak JPMorgan.
Data JPMorgan menunjukkan dana keluar dari ETF emas mencapai sekitar 20 miliar USD pada pekan yang berakhir 5 Juni. Penurunan minat juga terjadi pada aset kripto seperti bitcoin. Investor kini lebih melirik aset berdenominasi dolar AS seperti surat utang pemerintah karena janji bunga yang lebih tinggi.
Tekanan terhadap harga emas semakin kuat akibat penutupan Selat Hormuz yang memicu biaya energi lebih tinggi. Meskipun pasar jangka pendek sedang sulit, para analis menilai ketidakpastian utang pemerintah global tetap bisa menjadi penyangga harga emas di masa depan. Fokus investor saat ini tertuju pada hasil pertemuan Kevin pekan depan untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya

