back to top

Tensi Global Memanas, Harga Emas Terkoreksi Akibat Prediksi Suku Bunga Tinggi

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia mengalami penurunan tipis pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (17/3/2026) WIB. Kekhawatiran terhadap inflasi akibat konflik di Timur Tengah menekan pergerakan logam mulia ini. Investor menduga suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama di tengah situasi global yang memanas.

Mengutip CNBC International, harga emas spot turun 0,4% menjadi 4.998,69 USD per ons troi. Posisi ini merupakan level terendah sejak 19 Februari lalu. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April merosot 1,1% ke posisi 5.004,90 USD per ons troi.

Indeks dolar AS sebenarnya terpantau turun dari puncak tertingginya dalam 10 bulan. Pelemahan dolar biasanya membuat emas lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya. Namun, sentimen positif tersebut kalah kuat oleh kekhawatiran kenaikan inflasi.

Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, memberikan analisanya terkait kondisi pasar. Ia menilai lonjakan harga minyak akan mendorong inflasi lebih tinggi.

“Jika kita mengalami inflasi yang lebih tinggi, bank sentral tidak akan termotivasi seperti enam bulan lalu untuk memangkas suku bunga, yang merupakan hal negatif bagi harga emas,” ujar Bob Haberkorn.

Meskipun saat ini harga tertekan, Bob mengaku tetap optimis melihat perkembangan situasi dunia. Ia memprediksi harga emas masih berpotensi melonjak tajam ke depannya.

“Tetapi saya masih sangat optimis terhadap emas, mengingat apa yang terjadi di seluruh dunia. Banyak uang masih berada di luar lapangan menunggu untuk memasuki pasar ini, dan saya masih mengantisipasi emas seharga USD 6.000/ons,” tambahnya.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian. Namun, kinerja emas cenderung melemah dalam lingkungan suku bunga tinggi. Hal ini terjadi karena biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi meningkat.

Harga minyak dunia sendiri sudah melonjak lebih dari 60% sepanjang tahun ini. Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran kini memasuki minggu ketiga tanpa tanda-tanda akan berakhir. Konflik ini menyebabkan penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Pekan ini investor juga memantau rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS. Fokus pasar lainnya tertuju pada keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) serta pidato Ketua The Fed Jerome Powell.

The Fed diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan hari Selasa dan Rabu. Saat ini The Fed sedang dalam masa transisi menuju kepemimpinan baru. Presiden Donald Trump telah menominasikan Kevin Warsh untuk memimpin bank sentral tersebut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Trump Tekan Sekutu Soal Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Rontok Lebih dari 5%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia merosot pada...

Harga Emas Dunia Ambles 2% Sepekan, Masihkah Menarik Dikoleksi di Tengah Memanasnya Perang?

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia ditutup melemah pada...

Perang Iran Berlanjut, Harga Minyak Brent Bertahan di Atas USD 103

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup melonjak pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru