STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI) menyampaikan, aliran modal dan finansial pada Januari-Februari 2026 secara kumulatif mencatat netinflows sebesar US$1,6 miliar. Ini ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Sedangkan pada Maret 2026, menurut Perry, investasi portofolio mencatat net outflows sebesar US$1,1 miliar. Ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah.
“Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat sehingga dapat memitigasi dampak perang Timur Tengah,” katanya di konferensi pers dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) pada 16-17 Maret 2026, di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Neraca perdagangan pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$1 miliar. Ini lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Desember 2025 sebesar US$2,5 miliar akibat perlambatan permintaan dunia terhadap ekspor nonmigas.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 terjaga sebesar US$151,9 miliar. Ini setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Ke depan, menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan naiknya harga minyak global perlu mendapat perhatian karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan menuju batas atas kisaran defisit 0,9% sampai dengan 0,1% dari PDB.
“Dalam kaitan itu, sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran dan ketahanan eksternal, termasuk membangun kepercayaan investor global, akan terus ditingkatkan,” katanya.
