STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan rugi bersih yang membengkak signifikan pada tahun buku 2025. Emiten konstruksi pelat merah ini menderita rugi bersih sebesar Rp5,40 triliun (Rp642,58 per saham). Angka ini melonjak tajam dibandingkan rugi bersih tahun 2024 yang tercatat Rp86,75 miliar (Rp10,32 per saham).
Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025 yang dipublikasikan pada Selasa (7/4/2026), pendapatan usaha ADHI merosot 27,6% secara tahunan. Perseroan mengantongi pendapatan sebesar Rp9,67 triliun pada 2025. Sebagai perbandingan, ADHI meraih pendapatan Rp13,35 triliun pada tahun 2024.
Lini bisnis Teknik dan Konstruksi masih menjadi kontributor utama pendapatan dengan sumbangan Rp8,36 triliun. Disusul oleh sektor Manufaktur sebesar Rp628,51 miliar. Sektor Properti dan Pelayanan serta Investasi dan Konsesi masing-masing menyumbang Rp409,81 miliar dan Rp268,46 miliar.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan turun menjadi Rp8,62 triliun dari sebelumnya Rp11,72 triliun. Kondisi ini membuat laba bruto ADHI tercatat sebesar Rp1,05 triliun, menyusut dari Rp1,63 triliun pada 2024.
Pembengkakan rugi bersih ADHI dipicu oleh lonjakan tajam pada pos beban lainnya (neto). Pos ini mencatat kerugian Rp5,05 triliun, naik drastis dari kerugian Rp428,87 miliar di tahun sebelumnya.
Faktor utama penyebab kerugian tersebut adalah penurunan nilai realisasi bersih persediaan sebesar Rp2,24 triliun. Selain itu, terdapat penyisihan kerugian kredit ekspektasian bersih yang mencapai Rp1,44 triliun.
Dalam catatan laporan keuangan, manajemen mengungkapkan kondisi ekuitas perusahaan. “Grup mencatat rugi komprehensif untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025 sebesar Rp5,681 miliar yang berdampak terhadap posisi ekuitas Grup per tanggal pelaporan,” tulis manajemen ADHI.
Dari sisi neraca keuangan, total aset Adhi Karya (ADHI) menyusut 16,9% menjadi Rp28,79 triliun per Desember 2025. Pada akhir 2024, total aset perseroan masih berada di level Rp34,65 triliun.
Penurunan drastis juga terjadi pada ekuitas perseroan yang terpangkas menjadi Rp3,30 triliun dari sebelumnya Rp8,97 triliun. Sementara itu, total liabilitas ADHI tercatat sebesar Rp25,50 triliun, sedikit menurun dari Rp25,67 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Untuk memperbaiki kinerja, manajemen telah menyiapkan rencana strategis dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026. Langkah ini mencakup optimalisasi penagihan piutang pada proyek besar seperti LRT Jabodebek dan Tol Aceh-Sigli. Perseroan juga berencana melakukan restrukturisasi utang serta divestasi aset portofolio non-inti.
