STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka saham (stock futures) Amerika Serikat (AS) merangkak naik pada perdagangan Kamis malam waktu setempat. Wall Street kini bersiap menutup pekan dengan rapor hijau meskipun pasar didera gejolak tinggi.
Stock futures yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average naik 62 poin. S&P 500 berjangka menguat 0,1% dan Nasdaq 100 berjangka terangkat 0,2%.
S&P 500 sejauh ini sudah naik 0,5% sepanjang pekan. Capaian tersebut menempatkan indeks acuan ini pada jalur kemenangan mingguan kedelapan secara berturut-turut.
Indeks Dow Jones mencatat kenaikan 1,5% dalam pekan ini. Pergerakan tersebut menuju pekan positif ketiga dari empat pekan terakhir. Nasdaq Composite juga menambah penguatan 0,3% dan berada di jalur kenaikan ketujuh dalam delapan pekan terakhir.
Gejolak pasar meningkat pekan ini karena investor bergulat dengan lonjakan imbal hasil (yield) Treasury jangka panjang. Yield Treasury 30 tahun sempat menembus level 5,19%.
Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak sebelum krisis keuangan. Namun, posisinya sedikit melandai ke level 5,09% pada perdagangan Kamis.
Di sisi lain, harga minyak dunia justru bergerak lebih rendah. Para pelaku pasar mulai optimistis terhadap potensi penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2% ke level USD 96,35 per barel. Minyak Brent juga merosot lebih dari 2% dan ditutup pada level USD 102,58 per barel.
Adam Crisafulli, Pendiri Vital Knowledge, memberikan catatan penting terkait situasi global saat ini. Ia menyoroti kemungkinan kesepakatan terkait konflik yang melibatkan Iran.
“Pandangan kami mengenai Iran tetap sama: kesepakatan sangat mungkin terjadi, namun hal ini sudah diperhitungkan oleh pasar, dan konflik tersebut akan memberikan efek stagflasi setidaknya selama beberapa kuartal ke depan,” ujar Adam.
Selain pergerakan pasar, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan moneter. Presiden Donald Trump dijadwalkan melantik Kevin Warsh dalam sebuah seremoni pada hari Jumat.
Warsh merupakan sosok pilihan Trump untuk memimpin Federal Reserve (The Fed). Ia akan menggantikan posisi Jerome Powell sebagai orang nomor satu di bank sentral Amerika Serikat tersebut.

