STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu sore (20/5/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (21/5/2026) WIB. Tiga indeks utama melaju kencang dari sesi sebelumnya. Investor merespons positif penurunan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 645,47 poin atau 1,31% ke level 50.009,35. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 1,08% dan berakhir di posisi 7.432,97. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 1,54% menjadi 26.270,36.
Kenaikan indeks didorong oleh merosotnya harga minyak mentah. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,66% menjadi USD 98,26 per barel. Minyak mentah Brent juga turun 5,63% ke posisi USD 105,02 per barel.
Sentimen pasar membaik setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan terbaru. Trump menyampaikan pemerintah berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut mendingin. Yield obligasi 10 tahun turun lebih dari 9 basis poin. Sementara yield obligasi 30 tahun berkurang lebih dari 6 basis poin. Satu basis poin setara dengan 0,01%.
Pasar obligasi sempat mencemaskan investor dalam beberapa hari terakhir. Yield obligasi 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007. Yield 10 tahun juga mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun.
Kondisi ini memicu kekhawatiran peningkatan kembali inflasi akibat lonjakan harga minyak. Bank sentral AS atau Federal Reserve diperkirakan tertinggal dalam memerangi inflasi. Lembaga ini segera dipimpin oleh Kevin Warsh. Kenaikan suku bunga berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Notulen dari rapat Federal Reserve terbaru menunjukkan sikap para pejabat. Mayoritas pejabat memperkirakan adanya kenaikan suku bunga lanjutan jika konflik Timur Tengah terus memperburuk inflasi.
“Mayoritas peserta menyoroti, bagaimanapun, beberapa penguatan kebijakan kemungkinan akan menjadi tepat jika inflasi terus berjalan secara persisten di atas 2%,” tulis notulen tersebut.
Investor juga mengalihkan perhatian ke Nvidia. Perusahaan teknologi ini akan melaporkan kinerja keuangan kuartal pertama setelah penutupan pasar. Laporan ini menjadi indikator penting bagi perdagangan sektor kecerdasan buatan (AI). Data tersebut juga memberikan gambaran terbaru seputar permintaan cip global. Saham Nvidia menguat lebih dari 1% menjelang laporan dirilis.
James Demmert, Chief Investment Officer di Main Street Research, memberikan analisanya terkait posisi penting perusahaan tersebut.
“Nvidia adalah saham AI yang paling penting, dan karena begitu banyak keuntungan pasar saham selama beberapa tahun terakhir didorong oleh kapabilitas luar biasa dari AI, hasil dari laporan pendapatan hari Rabu berarti segalanya bagi pasar ini,” ujar Demmert.
Saham produsen cip ini sudah melonjak hampir 20% sepanjang tahun ini. Demmert menyebut ekspektasi pasar cenderung melandai menjelang rilis laporan keuangan. Padahal perusahaan mencatat lonjakan luar biasa lebih dari 1.400% dalam lima tahun terakhir.
Demmert menambahkan beberapa poin krusial yang menjadi perhatian investor saat ini.
“Titik kritis dalam laporan pendapatan Nvidia adalah tanda-tanda kompresi margin karena kenaikan harga memori, bersama dengan bagaimana perusahaan menavigasi penjualan di Cina,” tambah Demmert.

