spot_img

Wall Street Kembali Hijau, Indeks Dow Jones Cetak Rekor Baru di Tengah Harapan Damai Timur Tengah

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (21/5/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (22/5/2026) WIB. Indeks Dow Jones mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah. Investor menyambut baik penurunan harga minyak serta harapan akan damai di Timur Tengah.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 276,31 poin atau 0,55% ke level 50.285,66. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 0,17% dan berakhir di posisi 7.445,72. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) menguat tipis 0,09% menjadi 26.293,10.

Penguatan Wall Street didorong oleh melandainya harga minyak mentah dunia serta imbal hasil (yield) obligasi AS. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2% ke level USD 96,35 per barel. Minyak mentah Brent juga merosot lebih dari 2% menjadi USD 102,58 per barel.

Harga minyak sempat melonjak setelah adanya laporan pemimpin tertinggi Iran mengeluarkan perintah. Ia meminta uranium yang diperkaya tetap berada di dalam negeri. Hal ini sempat memperumit prospek penyelesaian konflik antara AS dan Iran.

Kenaikan harga minyak tersebut sempat memicu kenaikan imbal hasil Treasury karena kekhawatiran inflasi. Namun, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun akhirnya turun ke level 4,564%. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun juga turun menjadi 5,09%.

Sentimen positif pasar muncul setelah pernyataan Presiden Donald Trump. Trump menyebut pemerintahannya sedang berada dalam “tahap akhir” negosiasi dengan Iran. Kabar ini berhasil memutus tren penurunan pasar yang terjadi sebelumnya.

Robert Conzo, CEO The Wealth Alliance, memberikan analisanya terkait kondisi pasar. Menurut Conzo, investor merasa cukup nyaman melihat momentum kecerdasan buatan (AI), kinerja laba perusahaan yang kuat, serta rendahnya angka pengangguran.

“Jika inflasi melonjak karena harga minyak tetap di angka USD 100 atau lebih, yang bisa saja terjadi, mungkin ada kekhawatiran jangka pendek seputar hal itu, dan Anda akan mendengar banyak risiko berita utama,” ujar Conzo.

Conzo menambahkan perhatian pelaku pasar kini terpusat pada hasil perundingan geopolitik tersebut. “Semua mata tertuju pada sebuah kesepakatan,” tambahnya.

Di sisi lain, investor mencermati laporan keuangan kuartalan NVIDIA. Meski kinerja dan panduan keuangannya melampaui ekspektasi analis, saham Nvidia justru turun 1,8%. Nvidia juga mengumumkan kenaikan dividen tunai kuartalan menjadi 25 sen.

Conzo menilai ekspektasi investor terhadap raksasa cip tersebut sudah terlalu tinggi. Hal ini membuat pencapaian positif Nvidia dianggap biasa saja oleh pasar.

“Orang-orang mengatakan, ‘Kami mengharapkan lebih,’ Mereka hanya menginginkan lebih sampai pada titik di mana lebih menjadi tidak realistis,” jelas Conzo.

Secara keseluruhan, pasar saham AS berhasil bangkit setelah sempat tertekan isu geopolitik. Penurunan harga minyak dan obligasi menjadi faktor kunci penopang indeks tetap berada di jalur hijau.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Futures Wall Street Kompak Menghijau, S&P 500 Kian Dekat Rekor 8 Pekan Positif

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka saham (stock futures)...

Titah Pemimpin Tertinggi Iran Bikin Pasar Eropa Bergejolak, Saham Eutelsat Melambung 22%

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Sinyal Damai AS-Iran Berembus, Bursa Saham Asia Ramai-Ramai Menguat

STOCKWATCH.ID (TOKYO) Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas menguat...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru