STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak tajam pada Minggu malam (12/04/2026) waktu setempat atau Senin pagi (13/04/2026). Kenaikan ini terjadi setelah Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) bersiap melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah drastis diambil menyusul kegagalan perundingan damai selama akhir pekan.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei melonjak hampir 8%. Harga tersebut berakhir pada posisi 104,20 USD per barel. Lonjakan ini terpantau pada pukul 18.13 waktu setempat.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni juga melesat 7%. Harga minyak acuan internasional ini menetap di level 101,86 USD per barel. Pasar bereaksi cepat terhadap meningkatnya risiko pasokan energi global.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan militer akan memblokade seluruh lalu lintas maritim Iran. Aksi ini dijadwalkan mulai berlaku pada Senin pukul 10.00 waktu setempat. Blokade menyasar semua kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.
Pernyataan resmi CENTCOM menyebut blokade akan ditegakkan secara tidak memihak. Kapal dari semua negara yang menuju wilayah pesisir Iran akan diintervensi. Area ini mencakup Teluk Arab dan Teluk Oman.
Meskipun demikian, AS tidak akan menghalangi kapal yang menuju pelabuhan non-Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengancam tindakan ini melalui media sosial. Ia berang setelah negosiasi di Pakistan berakhir buntu.
“Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua Kapal yang mencoba masuk, atau meninggalkan, Selat Hormuz,” tulis Trump.
Trump juga memerintahkan Angkatan Laut mencegat kapal di perairan internasional. Aturan ini berlaku bagi kapal yang membayar biaya tol kepada Iran untuk melewati Selat Hormuz. Selat sempit ini merupakan urat nadi vital pasar energi global.
Laporan dari The Wall Street Journal menyebut Trump tengah mempertimbangkan serangan terbatas. Langkah militer ini bertujuan memecah kebuntuan dalam pembicaraan damai. Namun, belum ada kepastian mengenai peluncuran serangan udara tersebut.
Arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz telah anjlok drastis. Ancaman serangan Iran memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Padahal, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini sebelum konflik pecah pada 28 Februari.
Wakil Presiden AS JD Vance memimpin delegasi dalam perundingan tersebut. Ia mengungkapkan alasan utama kegagalan kesepakatan di Islamabad. Menurutnya, Iran tidak memberikan komitmen tegas mengenai senjata nuklir.
“Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen mendasar dari keinginan Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir,” ujar Vance.
Pihak Iran memberikan pembelaan melalui Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf. Ia menyebut AS tidak mampu membangun rasa aman dalam komunikasi diplomatik tersebut. Menurutnya, AS “gagal mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini.”
Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, ikut bersuara. Ia menegaskan posisi negaranya dalam menjaga kendali wilayah laut tersebut. Ia menyebut “kunci Selat Hormuz” tetap berada di tangan Republik Islam.
Data dari LSEG menunjukkan hanya tiga kapal supertanker yang melintasi selat pada Sabtu. Setiap kapal tersebut mampu membawa hingga dua juta barel minyak. Jumlah ini jauh di bawah level sebelum perang yang mencapai 100 kapal per hari.
Investor kini bersiap menghadapi ketidakpastian lebih lanjut di pasar energi. Blokade pelabuhan Iran diprediksi akan terus menekan ketersediaan minyak mentah dunia. Kondisi ini berpotensi menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi dalam waktu dekat.
