IMF Sebut Indonesia “Bright Spot” Ekonomi Global, Puji Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Dana Moneter Internasional (IMF) dan investor global memberikan apresiasi tinggi terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Indonesia ditegaskan sebagai salah satu “bright spot” atau titik terang dalam perekonomian global.

Pujian ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian dunia. Fundamental ekonomi nasional dinilai sangat kuat. Kebijakan pemerintah juga dianggap kredibel dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal.

Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, menyampaikan pandangan tersebut dalam rangkaian IMF Spring Meetings, Selasa (14/4). Pertemuan ini dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan RI, dan sejumlah anggota DPR RI.

Kristalina menyoroti konsistensi Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter dinilai sangat solid. Pemerintah juga disiplin mempertahankan defisit anggaran di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Indonesia dianggap sukses mengelola keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan secara optimal. Momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Kekuatan utama berasal dari tingginya permintaan domestik.

“Indonesia dinilai mampu mengelola keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan secara optimal,” ujar Kristalina Georgieva dalam siaran pers Bank Indonesia, Rabu 915/4/2026).

Bank Indonesia (BI) terus menempuh respons kebijakan yang bersifat adaptif dan forward-looking. Pendekatan yang dilakukan tidak lagi konvensional. BI menerapkan bauran kebijakan yang terintegrasi.

Kebijakan moneter fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan daya tarik aset domestik. Kebijakan makroprudensial diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sistem pembayaran juga diperkuat demi mendorong digitalisasi aktivitas ekonomi.

“respons kebijakan yang ditempuh tidak lagi bersifat konvensional, melainkan melalui bauran kebijakan yang terintegrasi dan adaptif,” sebut Bank Indonesia.

Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal serta merealokasi belanja ke sektor produktif. Langkah ini memperkuat kredibilitas kebijakan nasional di mata investor.

Dalam jangka menengah, Indonesia fokus pada transformasi struktural. Hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi menjadi prioritas utama. Strategi ini bertujuan menghasilkan ekonomi dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Utang Luar Negeri Indonesia Februari 2026 Tercatat US$437,9 Miliar, Naik 0,69%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa posisi...

Perkuat Kelistrikan Nasional, Produksi Listrik Bersih Pertamina Tembus 8.743 GWh

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pertamina (Persero) terus memacu pengembangan...

Kemendag Turunkan Patokan Harga Ekspor Tembaga dan Emas

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Kementerian Perdagangan (Kemendag) resmi menurunkan Harga...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru