Tensi AS-Iran Memanas, Bursa Saham Asia Mayoritas Ditutup Menghijau

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas menguat pada penutupan perdagangan Senin (20/4/2026). Investor tetap waspada memantau perkembangan di Timur Tengah seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Aksi penyitaan kapal di Teluk Oman menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Mengutip CNBC International, Presiden Donald Trump menyatakan kapal perusak Angkatan Laut AS telah menembak dan melumpuhkan kapal kargo berbendera Iran. Setelah itu, pasukan Marinir menaiki dan menyita kapal tersebut di Teluk Oman. Langkah ini merupakan eskalasi dari blokade yang dilakukan AS.

Penyitaan ini terjadi setelah Iran menembaki kapal komersial yang mencoba melintasi Selat Hormuz pada Minggu pagi. Iran menganggap blokade laut AS sebagai pelanggaran gencatan senjata. Akibatnya, Iran membatalkan rencana negosiasi yang seharusnya berlangsung di Islamabad hari ini.

Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Teheran jika tidak menyetujui persyaratan Washington. Ia mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital di negara tersebut.

“Menghancurkan setiap Pembangkit Listrik, dan setiap Jembatan, di Iran,” ancam Trump pada Minggu waktu setempat.

Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat naik 0,60% ke posisi 58.824,89 pada akhir perdagangan. Indeks Topix yang mencakup pasar lebih luas juga menguat 0,43% menjadi 3.777,02.

Bursa Korea Selatan ikut menghijau meski kenaikannya sempat menyusut. Indeks Kospi ditutup naik 0,44% ke level 6.219,09. Sementara itu, indeks Kosdaq yang diisi saham-saham berkapitalisasi kecil naik 0,41%.

Saham raksasa teknologi SK Hynix menjadi salah satu penampil terbaik dengan kenaikan lebih dari 3%. Perusahaan mengumumkan telah memulai produksi massal memori server AI generasi terbaru. Produk ini dirancang khusus untuk platform Vera Rubin milik Nvidia.

Di China daratan, indeks CSI 300 naik 0,61% ke posisi 4.757,44. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga melonjak 0,77% ke level 26.361,07. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 tidak banyak berubah dan berakhir di posisi 8.953,30.

Pemerintah China memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pinjaman acuan selama 11 bulan berturut-turut. Beijing juga menurunkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi kisaran 4,5% hingga 5%. Ini merupakan target pertumbuhan paling rendah sejak tahun 1990-an.

Ketegangan geopolitik ini membuat harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 6,49% menjadi USD 89,29 per barel. Minyak Brent juga melesat 6,34% ke posisi USD 96,12 per barel.

Di India, indeks Nifty 50 menguat tipis 0,05% ke level 24.364,85. Kenaikan bursa Asia ini terjadi di tengah penurunan kontrak berjangka (futures) bursa AS. Indeks berjangka Dow Jones Industrial Average merosot 425 poin atau 0,9% pada Senin pagi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Era Baru Apple: John Ternus Resmi Jadi CEO Gantikan Tim Cook

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Raksasa teknologi Apple mengumumkan suksesi...

Tensi Geopolitik Memanas, Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 Kompak Naik Tipis

STOCKWATCH.ID (NEWS YORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS)...

Tensi AS-Iran Memanas, Wall Street Terkoreksi dan Rekor Nasdaq Terhenti

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru