STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) menyiapkan enam strategi pertumbuhan untuk menghadapi tantangan industri pelayaran dan logistik yang masih dipengaruhi ketidakpastian global serta perlambatan sektor pertambangan batu bara. Perseroan juga optimistis mampu mempertahankan kinerja usaha dan memanfaatkan peluang pertumbuhan di masa mendatang.
Direktur Utama PT Pancaran Samudera Transport Tbk, Susanto, mengatakan pada kuartal I-2026 perseroan masih menghadapi sejumlah tantangan eksternal. Di antaranya meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak serta belum adanya revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara yang membuat aktivitas produksi dan distribusi di sektor terkait belum sepenuhnya pulih.
“Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap industri pendukung pertambangan dan logistik. Namun demikian, Perseroan terus melakukan berbagai langkah mitigasi dan pengelolaan risiko secara proaktif melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi pemanfaatan armada, pengendalian biaya, serta penguatan hubungan dengan pelanggan utama,” kata Susanto, Rabu (17/6/2026).
Menurut Susanto, dengan fundamental operasional yang tetap terjaga dan pengalaman menghadapi berbagai siklus industri, manajemen meyakini perseroan memiliki kapasitas untuk mempertahankan kinerja usaha sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ketika kondisi industri membaik.
Ia menjelaskan, prospek industri pelayaran untuk pengangkutan kargo khusus masih terbuka. Meski pasar batu bara global mengalami normalisasi, Indonesia tetap menjadi salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar dunia. Permintaan dari pasar Asia masih menjadi faktor pendukung utama aktivitas pengangkutan komoditas.
Selain batu bara, PSAT melihat peluang dari pengangkutan komoditas lain seperti pasir silika, nikel, bauksit dan wood pellet yang dinilai dapat membuka ruang diversifikasi bisnis perseroan.
Pada bisnis galangan kapal, Susanto menilai prospeknya tetap positif. Banyak armada kapal tunda dan tongkang yang dibangun pada masa awal booming komoditas kini memasuki usia yang membutuhkan perawatan besar dan docking berkala.
“Kondisi tersebut menciptakan peluang yang menarik bagi bisnis shipyard Perseroan hingga beberapa tahun ke depan,” ujar Susanto.
Untuk menangkap peluang tersebut, PSAT menyiapkan enam fokus strategi. Pertama, diversifikasi komoditas di pasar domestik dengan menargetkan kontribusi dari komoditas selain batu bara mulai 2026. Kedua, memperluas wilayah layanan dan basis pelanggan. Ketiga, memperkuat hubungan pelanggan melalui implementasi customer relationship management (CRM). Keempat, meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi proses bisnis. Kelima, menerapkan praktik operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan. Keenam, memperkuat tata kelola perusahaan melalui penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Selain penguatan bisnis, perseroan juga melakukan transformasi logo sebagai representasi arah baru pertumbuhan perusahaan.
PSAT merupakan perusahaan jasa transportasi laut yang beroperasi sejak 2007 dan berfokus mendukung distribusi komoditas strategis nasional, khususnya sektor pertambangan dan energi. Perseroan memiliki struktur usaha terintegrasi yang mencakup bisnis pelayaran, kepemilikan dan pengoperasian kapal melalui Pancaran Karya Shipping, serta galangan kapal melalui Pancaran Samudera Shipyard.
Hingga saat ini, PSAT mengoperasikan 30 tongkang, 35 kapal tunda dan empat kapal bulk carrier. Armada tersebut melayani pengangkutan berbagai komoditas di sejumlah wilayah Indonesia. Selain itu, melalui Pancaran Samudera Shipyard, perseroan juga menjalankan usaha pembangunan, perbaikan dan perawatan kapal untuk kebutuhan internal maupun pihak ketiga.
Area operasional PSAT tersebar di berbagai wilayah strategis. Pemuatan utama berada di Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan area pembongkaran mencakup Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi dan berbagai kawasan industri lainnya di Indonesia.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi perseroan setelah mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan kode PSAT melalui penawaran umum perdana saham atau IPO. Langkah tersebut menjadi fondasi untuk mendukung pertumbuhan perusahaan pada masa mendatang.
Sementara itu, Direktur Keuangan PT Pancaran Samudera Transport Tbk, Wendi Arifin, mengatakan perekonomian Indonesia pada 2025 tumbuh 5,1% secara year on year berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Namun, sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 0,66% di tengah perlambatan aktivitas industri batu bara.
Produksi batu bara nasional turun dari 836 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 790 juta ton pada 2025 atau berkurang sekitar 5,5%. Untuk 2026, produksi batu bara nasional diproyeksikan sekitar 600 juta ton atau lebih rendah sekitar 24,1% dibanding target produksi 2025.
Menurut Wendi, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas operasional pelanggan utama PSAT dan berdampak terhadap kebutuhan jasa transportasi logistik.
Di tengah tantangan tersebut, PSAT membukukan penjualan bersih Rp1,076 triliun pada 2025, naik 9,9% dibanding 2024 atau bertambah sekitar Rp96,6 miliar. Total aset meningkat 12% menjadi Rp1,68 triliun dari sebelumnya Rp1,5 triliun. Sementara ekuitas naik 9,9% menjadi Rp1,291 triliun dari Rp1,175 triliun.
Di sisi profitabilitas, laba bruto turun 55% menjadi Rp145,8 miliar dari Rp327,3 miliar pada 2024. Laba usaha juga turun 91% menjadi Rp23 miliar dari Rp243,3 miliar pada tahun sebelumnya.
“Di tengah kondisi tersebut, perusahaan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,9% dibandingkan tahun 2024. Capaian ini menunjukkan kepercayaan pelanggan terhadap layanan Perseroan tetap terjaga serta mencerminkan kemampuan Perseroan dalam mempertahankan aktivitas operasional secara berkelanjutan di tengah kondisi pasar yang penuh dengan tantangan,” ujar Wendi.
Wendi menambahkan, perseroan meningkatkan biaya operasional selama 2025 untuk menjaga ketersediaan armada, kualitas layanan kepada pelanggan dan kesiapan operasional menghadapi kebutuhan pasar yang dinamis. Langkah tersebut dipandang sebagai investasi strategis untuk menjaga daya saing jangka panjang serta memperkuat fondasi operasional ketika kondisi industri kembali membaik.

