STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia tidak banyak berubah pada akhir perdagangan Kamis (18/6/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (19/6/2026) WIB. Kondisi ini terjadi setelah Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyebut belasan juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent naik 30 sen menjadi 79,85 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 19 sen. Minyak WTI berakhir pada posisi 76,60 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga minyak telah jatuh lebih dari 11% sejak pengumuman kesepakatan damai antara AS dan Iran pada Minggu lalu. Vance menyampaikan sebanyak 12,5 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz dalam semalam.
“Itu adalah angka tertinggi sejak awal konflik,” ujar Vance kepada wartawan di Gedung Putih. Sebelum perang, sekitar 14 juta barel minyak mentah melewati selat tersebut setiap hari.
Sentimen pasar dipengaruhi oleh langkah Presiden Donald Trump menandatangani kesepakatan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Perjanjian yang diteken pada Rabu lalu ini bertujuan mengakhiri perang di Timur Tengah.
Dalam kesepakatan tersebut, Iran mengizinkan kapal melintasi Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari. Sebagai imbalannya, AS mencabut blokade angkatan lautnya.
“Irani, untuk malam kedua berturut-turut, tidak menembaki kapal apa pun di Selat Hormuz,” tutur JD. Ia menambahkan kedua belah pihak sejauh ini menghormati komitmen awal perjanjian tersebut.
Militer AS melalui Centcom juga telah mengizinkan lebih dari belasan kapal melewati blokade. Pihak Centcom kemudian menyatakan telah mengakhiri blokade angkatan laut sepenuhnya.
Meskipun jalur mulai terbuka, Matt Smith dari perusahaan pelacak kapal Kpler menyebut belum ada peningkatan lalu lintas besar-besaran. Para pengirim kapal terlihat masih ragu untuk melintasi selat tersebut.
Bob McNally, Presiden Rapidan Energy, memberikan peringatan mengenai situasi ini. Ia menilai pembukaan Selat Hormuz tidak serta merta menyelesaikan gangguan pasokan global.
“Ini tidak lebih dari pembayaran tebusan mahal untuk setidaknya 65 juta barel yang terjebak di dalam Hormuz,” tegas McNally. Menurutnya, kesepakatan ini hanyalah gencatan senjata sementara.
Senada dengan itu, Amrita Sen, pendiri Energy Aspects, menilai pasar minyak saat ini tidak bergerak berdasarkan fundamental. Ia mencatat stok minyak dunia sebenarnya berada pada level terendah dalam sejarah.
“Semuanya akan berjalan lebih bertahap,” kata Sen. Ia memprediksi lalu lintas kapal tidak akan kembali ke level sebelum konflik dalam waktu semalam.

